Selasa, 27 Januari 2015

Excerpt #Interval: Time and Space to Talk


            Bagi Erash, musik pengiring terbaik saat sarapan adalah suara benda logam yang beradu dengan porselen. Atau keheningan. Selain itu, tidak ada. Obrolan? Yang benar saja.Sebenarnya, yang terbaik adalah dia segera menghabiskan sarapannya, kemudian beranjak pergi dari ruang makan.

            Tetapi, setidaknya, dia membutuhkan lima menit untuk menghabiskan roti panggang di depannya. Dan, belum satu menit berlalu, sosok Anna telah muncul dengan mengenakan seragam lengkap. Penampilannya sangat segar pagi itu. Jaket tipis berwarna cokelat pupus membungkus tubuhnya yang mungil, kemudian bandanna merah tua menutupi sebagian rambut ikal sebahunya. Gadis itu muncul, kemudian mengambil duduk di sebelah Erash.

            Tidak ada satu kata pun yang meluncur dari mulut Anna, dan juga dari orang-orang di sekitarnya. Hal demikian itu, sudah biasa bagi mereka. Gadis itu segera mengambil sarapannya, kemudian mulai menyantapnya dalam hening.

            Dan hening tersebut pecah oleh suara Danu Sadjana yang telah menyudahi sarapannya.
           
            “Ada acara dinas selama satu minggu,” kata lelaki itu, “ke luar kota. Dan berangkat hari ini.” Nadanya terdengar sangat kaku.

            Ucapannya barusan memang didengar oleh ketiga orang yang tengah duduk di meja makan, tetapi tidak ada yang menanggapi, seolah-olah pengumuman barusan tidak pernah ada.

            Kendati begitu, papanya tetap melanjutkan kalimatnya, dengan agak terbata. “Kalian, hati-hati di rumah.” Setelah itu, dia beranjak, meninggalkan ruang makan yang tetap hening.

            Freya Sadjana menyusul tidak lama kemudian. Sebelum pergi, kepada Anna dan Erash, dia berpesan, “Jangan membuat kekacauan di sekolah.” Perempuan itu kemudian melirik putra sulungnya. “Terutama kamu, Erash. Tolong, jangan sering libatkan Mama dengan guru BK-mu yang cerewetnya luar biasa itu. Cukup minggu kemarin kali terakhir Mama mendatangi sekolah kalian untuk persoalan yang sama.” Kemudian, mamanya segera meninggalkan ruang makan.

            “Manis sekali mereka....” Gadis di sebelah Erash menggumam dengan nada sinis.

            Erash mendengar pemberitahuan papanya dan juga petuah yang terdengar seperti sebuah ancaman dari mamanya barusan. Dia juga mendengar komentar Anna tentang kedua orang tua mereka, tetapi baginya, diam adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan. Karena menurut dia, bicara pun hanya akan berakhir seperti yang sudah-sudah. Tidak didengar. Terabaikan.
           

            Dan itu, luar biasa sakitnya.

Tentang “Drama Keluarga” dalam Interval


            Entah sejak kapan, saya mulai menyukai cerita berlatar keluarga. Banyak film, atau pun novel yang saya cari dengan latar cerita demikian. Berjam-jam, saya akan dibikin anteng dengan tontonan tersebut, atau terkadang, saya akan lupa daratan kala saya disuguhi bacaan dengan tema keluarga.
            Saya, amat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan keluarga serta interaksi mereka di dalamnya. Seperti suasana rikuh yang terjalin antara  Hugh Jackman dan Dakota Goyo, si ayah muda dan bocah yang cerdas dalam film “Real Steel”, keengganan Miley Cirus berbicara dengan Greg Kinnear yang berperan sebagai ayahnya dalam “The Last Song”, ketakutan James Franco tentang penyakit pikun yang diderita John Lithgow, ayahnyadalam “Rise of the Planet Apes”, atau Dwayne Johnson yang seorang ayah biasa, yang kemudian berusaha mati-matian, menyamar sebagai DEA untuk menyelamatkan Rafi Gavron, anaknya yang dijebak dalam film “Snitch”.
            Itu hanya sebagian kecil, dan kesemuanya itu, di mata saya, sangat mengharukan. Lalu, tebersit dalam pikiran saya, bagaimana kalau saya juga menulis kisah-kisah seperti mereka. Kedekatan antara ibu-anak-ayah atau, kecanggungan yang terjalin di antara mereka karena satu lain hal. Tetapi, apakah kesemuanya itu murni terlahir dari keinginan saya?
            Sepertinya tidak juga. Dalam keluarga, saya adalah tipe orang yang tidak terbuka. Bila terjadi apa-apa, saya lebih suka menyimpannya sendiri, dan pada awalnya memang tidak ada masalah. Tetapi, lama kelamaan, satu hal dalam diri saya memberontak, dan pada akhirya akan ada titik saya meluapkannya, seperti letusan gunung merapi.
            Lalu, apa ada hubungannya dengan tokoh Erash dalam Interval? Tentu ada. Saya membikin karakter Erash yang, kurang lebih begitu—sedikit seperti saya: selalu menganggap semuanya baik-baik saja, hingga suatu saat, dia merasa jengah dengan keadaan tersebut. Tidak selamanya diam adalah emas. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial yang perlu bicara. Itu yang saya tekankan dalam novel keempat saya.
            Ada pula Freya dan Danu Sadjana yang, rupanya, kedua orang dewasa itulah yang memulai semuanya. Membuat suasana ruang makan menjadi dingin, membuat rumah tidak lagi menjadi surga, termasuk, keputusan mereka telah membuat Anna, adik Erash, membenci pemuda itu. Sejak awal, interaksi keduanya memang sangat kaku. Anna dan Erash. Barangkali tidak seperti sepasang adik-kakak pada umumnya.
            Tetapi, terus terang, saya menyukai mereka. Saya menyukai Erash saat diceritakan dari sudut pandang Anna, lalu saya juga menyukai Anna ketika diceritakan dari sudut pandang Erash. Pandangan mereka berdua tentu saja amat subjektif. Seperti pandangan kalian saat membacanya nanti. Dan, saya tidak tahu, apakah kalian akan sama jatuh cintanya kepada mereka, seperti saat saya menuliskannya.
            Saya selalu berharap begitu. Semoga nyaman mendiami salah satu ruangan di keluarga Sadjana dalam novel Interval.

            

Minggu, 18 Januari 2015

Perempuan Berbaju Koki Bernama An


http://pradita3.blogspot.in/2013/09/di-balik-hujan.html?m=1
         Hujan kembali menjebakku pada Selasa sore, seperti di tiga minggu sebelumnya. Cepat-cepat aku menepikan motor, membawa langkahku memasuki satu-satunya toko kue di seberang jalan di kawasan Suburban, lalu membuka pintunya yang kayu.
            Sebuah lonceng kecil di atas kosen berdencing kala aku membukanya, lalu segera kubawa langkahku memasuki ruang tidak luas bernuansa salem yang diisi dengan perabotan serbakuno; sketsa-sketsa sederhana yang berpigura cokelat dan lampu-lampu yang bergelantung di langit-langit.
            Aku mengedarkan pkaungan ke sekitar, pada etalase berisi macam-macam kue yang tidak kuketahui namanya, bertumpu pada sebuah kabinet. Sekitar satu meter di belakang perabot itu, terdapat rak putih tinggi yang nyaris menyentuh langit-langit. Di dalamnya berbaris stoples-stoples yang diisi dengan banyak kue kering yang, lagi-lagi tidak satu pun kuketahui namanya. Aku mengunjungi tempat yang isinya sama sekali sangat asing, dan ini kali ketiga kunjunganku.
            Aneh, bukan? Ya, aku juga merasa begitu. Sebenarnya, semua ini berkat hujan sialan yang datangnya sangat tiba-tiba.
            Toko kue yang kukunjungi sepi. Hanya ada seorang pengunjung perempuan yang mengisi meja di sudut ruangan. Perempuan cantik yang mengecat kukunya dengan warna merah, yang sedang mencoret-coret sebuah buku berwarna serupa kuku-kukunya.
            Itu kali ketiga aku melihat dia. Di tempat yang sama, dengan pesanan yang sama, dan pada suasana yang sama; pada saat rintik-rintik turun—dan sepertinya, pada saat aku tengah sial-sialnya. Sudah pasti aku akan kembali terlambat menemui narasumberku. Dimarahi pemred hanya sekelumit masalah yang akan kuhadapi setelah ini. Tetapi memecatku adalah satu-satunya kemungkinan yang mustahil dilakukan perempuan gendut itu. 
            Aku menghampiri meja di depan perempuan berambut ikal tebal yang kini tengah melamun dan menatap hujan dengan sendu. Aku segera meletakkan tas laptop dan kamera ke atas meja, kemudian mengusap rambutku yang kuyup. Tidak lama setelah aku duduk, seorang pramusaji perempuan menghampiriku, menyodorkan buku menu yang kutepis secepatnya.
            “Teh Hijau,” kusebut pesananku.
            Pramusaji itu segera mencatatnya, dan bersama senyum ramah yang sedikit canggung, dia minta diri.
            Aku kembali mengusap-usap pakaianku yang basah, dan beberapa saat kemudian, seorang perempuan membawakan pesananku. Bukan pramusaji dengan senyum canggung tadi, tetapi perempuan muda yang mengenakan seragam koki yang langsung menyerahkan cangkir porselen itu ke atas meja kayu di hadapanku.
            “Teh Hijau pesananmu,” ucap perempuan berbaju koki itu.
            Kubilang, “Terima kasih,” lalu kembali pada kesibukanku semula. Sesungguhnya, baju yang basah ini membuatku tidak nyaman, seperti saat kau mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhmu.
            Sedetik kemudian, terdengar sebuah dehaman dari arah arah perempuan muda berbaju koki di sampingku, “Toko kue kami menyajikan kue-kue yang luar biasa enak dan cantik. Kau tidak akan melupakan bagaimana rasa tar, puff, mousse dan pai kami. Atau, kau ingin mencicipi tiramisu buatan koki kami yang, kalau saja toko-toko kue terkenal di Paris seperti Gerald Mulot dan Lonetre menjual tiramisu, sudah pasti tiramisu buatan Ju ini pantas dimasukkan ke buku menu mereka, dan dihargai enam euro per potong. Bagaimana?”
            “Terima kasih.” Kalau perempuan berbaju koki ini tidak bodoh, sudah pasti tahu maksud ucapanku barusan.
            “Emm, atau kau ingin merasai Souffle cokelat buatan Ju yang, meskipun dingin, tetapi rasanya tidak ada tandingannya?” Masih perempuan yang sama yang mengoceh di sampingku.
            Kuhentikan segera aktivitasku, lalu menoleh ke arah perempuan berbaju koki itu. Wajahnya memasang ekspresi penuh harap, seolah jawaban “ya” yang terlontar dari mulutku akan membuatnya tersenyum seharian.
            “Pekerjaan saya selalu menuntut rasa ingin tahu, dan tidak percaya.”
            “Kau jurnalis?” dia menebak.
            Aku mengangguk, lalu melanjutkan kalimatku yang terpotong tadi. “Saya ingin tahu bahwa barusan kau tidak sedang beromong kosong.”
            “Baik,” ucap perempuan berbaju koki itu dengan semringah. “Jadi, kue apa yang ingin kau cicipi?” tanyanya, masih dengan ekspresi yang sama.
            “Kue yang jika dijual di toko Gerald Mulot dan Lonetre akan dihargai enam euro per potong.”
            Tidak lama setelah aku menyebutkan pesananku, perempuan berbaju koki itu langsung minta diri. Di luar masih hujan, dan toko kue yang kukunjungi tetap sepi. Hujan seperti mengunci sepasang kaki para pengunjung, lalu membiarkan aku bersama dengan perempuan berwajah murung di meja di sampingku. Berdua, memandangi butir-butir hujan, seperti tokoh-tokoh fiksi dalam novel atau juga dalam film yang pernah kutonton. Tokoh-tokoh, yang sebenarnya cengeng, yang menganggap hujan adalah bentuk kesetiaan alam atas kesedihannya.
            Lamunanku tersadar oleh dering ponsel yang kuletakkan di dalam tas. Bunyinya monoton, dan semakin nyaring. Aku meraihnya, lalu kudapati nama Gus yang tampil pada layarnya. Aku membiarkannya, sampai dering membosankan itu berhenti dengan sendirinya.
            “Ah, pacarmu pasti mengambek panggilannya tidak dijawab.” Perempuan berbaju koki itu muncul, membawa kue yang disebutkannya tadi sambil berkomentar sok tahu. “Selamat menikmati krim, keju mascarpone dan biskuit kopi yang lembut. Saya percaya, kue ini akan memupus anggapanmu tentang ocehan saya tadi.” Lalu, dia mengulas senyum aktor; senyum yang berusaha menyembunyikan kesedihannya sendiri.
            “Ya, terima kasih. Saya akan membayarnya seharga enam euro kalau apa yang kau bicarakan bukan omong kosong.”
            Senyum perempuan di sampingku semakin lebar. “Ya, semoga apa yang kau katakan barusan juga bukan omong kosong,” balasnya seraya mengedipkan satu matanya.
            Aku dibuat tersenyum oleh perempuan berbaju koki yang memberi kesan akrab, seolah-olah aku pernah bertemu di hari-hari sebelumnya. Perempuan itu minta diri setelah itu, membiarkan aku mencicipi calon kue seharga enam euro di hadapanku.
            Ini kali pertama aku mencicipi sesuatu yang manis, selain kopi hitam yang agak pahit. Aku meraih sendok kecil, kemudian mencicipi tiramisu di hadapanku. Dan, ini aneh. Maksudku, aku tidak memakan kue karena aku tidak menyukai makanan manis. Tetapi, tiramisu dalam mulutku sangat enak, seperti yang dibilang perempuan berbaju koki tadi. Krim, keju mascarpone dan biskuit kopi yang lembut seketika melumer di lidahku, dan untuk beberapa saat, aku tertegun. Sepertinya, perempuan berbaju koki tadi lupa menyebutkan, bahwa koki mereka juga menaburi bubuk-bubuk magis ke dalamnya.
            Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menghangat dalam diriku, seperti saat kau menikmati sajian sederhana yang dibuat ibumu. Di tengah-tengah ruang makan yang tidak luas, kau berkumpul dengan keluargamu, kemudian berbincang sambil sesekali mengurai tawa. Ini serupa kegilaan. Aku akan mengeluarkan uang senilai enam euro untuk kue ini kepada perempuan berbaju koki tadi.
            Kue di depanku belum separuhnya habis saat ponselku berbunyi. Sebuah pesan teks masuk, dari orang yang sejak tadi mencoba menghubungiku. Berbunyi seperti ini:
                “Sudah lima tahun, Moses. Sampai kapan kebencian akan membawamu semakin jauh?”
            Pesan selanjutnya muncul, kali ini bernada sedih dan sarat penyesalan.
            Pulanglah. Aku rindu bercengkerama denganmu.”
            Aku tidak membalas, dan pesan terakhirnya muncul. Nadanya pesimis.
                “Terkutuklah aku yang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, selain kau.”
            Aku membaca tiga pesan teks yang dikirim Gus dengan lekat, sampai-sampai aku tidak menyadari perempuan yang duduk di sampingku beranjak dari kursinya. Hanya gemeletap sepasang sepatunya yang terdengar, lalu sosoknya sudah berada di luar. Melalui jendela, aku melihat perempuan itu membentangkan payung merah, kemudian menembus rintik-rintik yang mengenai payungnya. Tidak lama setelah kepergian perempuan itu, hujan berhenti dan langit berangsur terang.
            Aku meletakkan ponselku kembali ke dalam tas. Aku tidak memiliki alasan membalas pesan teks dari lelaki yang sudah berkhianat itu. Tanpa aku tahu, suatu hari, aku akan menyesali sikapku yang begini.
***
            Aku mengunjungi kembali toko kue di kawasan Suburban pada Selasa yang cerah, dan sebenarnya aku mengharapkan sore ini hujan deras.
            Dencing lonceng kecil di atas kosen menyapa saat aku membuka pintu. Tidak seperti terakhir kali aku mengunjunginya, toko kue kali ini ramai. Meja yang berderet nyaris penuh, lalu etalase dan stoples-stoples berisi kue kering di dalam lemari putih itu tersisa separuhnya. Aku membawa langkahku menuju meja yang sama yang kebetulan baru ditinggalkan pengunjung.
            Seorang pramusaji menghampiriku sambil menyodorkan buku menu. Seperti biasa, aku menepis seraya berkata, “Teh hijau,” aku menjeda kalimatku sesaat, “dan kue seharga enam euro per potong.”
            Pramusaji di depanku menatapku bingung, “Maaf, Mas, kami tidak memiliki kue yang disebut.”
            “Tulis saja,” kubilang, “salah satu koki kalian membuat kue itu.” Pramusaji  itu lalu mencatat dan minta diri setelahnya.
            Aku meletakkan tas kamera dan laptop ke atas meja, kemudian menatap ke luar melalui jendela. Cuaca masih cerah, dan sepertinya harapanku tidak akan terpenuhi. Mana mungkin hujan turun, sementara matahari masih menampakkan diri.
            Tidak lama kemudian, para pengunjung satu per satu mulai meninggalkan toko kue, menyisakan aku seorang diri. Duduk termenung pada meja di dekat jendela. Menunggu hujan turun. Dan sepeninggalnya mereka, terdengar bunyi petir menyambar di tengah langit yang cerah. Seketika itu, butir-butir air perlahan turun.
            “Ah, hujan,” kudengar seseorang mendesah di sampingku.
            “Hujan nanggung,” aku bergumam. Hujan kala matahari tetap bersinar dengan terang. Dahulu, saat kami masih kecil, Gus selalu mencari keberadaanku saat fenomena seperti ini muncul.
            ‘Pertanda,’ kata Gus, ‘hujan seperti ini pertanda bahwa orang-orang yang sudah meninggalkan kita tengah merindukan kita.’
            Aku diam saja saat itu, tidak mengerti dengan ocehan kakakku itu.
            ‘Jangan diam saja, bodoh. Kita doakan ibu kita di surga. Saat ini, dia sedang merindukan kita. Bilang juga, kita rindu padanya.’
            “Ini kue enam euro pesananmu.” Aku dikagetkan oleh suara perempuan berbaju koki yang membawa nampan berisi pesananku. Dengan cekatan, dia menaruh secangkir teh hijau dan sepotong tiramisu ke atas meja.
            “Terima kasih,” aku menjawab.
            “Saya tidak menyangka kalau kau akan membayar tiramisu ini seharga enam euro.”
            “Moses,” gumamku. “Panggil saya Moses.”
            “Kalau begitu, panggil saya An,” Perempuan berbaju koki itu memperkenalkan diri. Lalu, dia melirik ke arah dirinya muncul tadi. Setelah keadaan dirasanya aman, dia menggeser kursi dan duduk pada kursi di seberangku.
            “Jadi..., kau menyukai tiramisu buatan Ju?” tanya An, penuh rasa ingin tahu.
            Aku menggeleng, tetapi bukan berarti tidak. Aku menatap tiramisu di hadapanku dengan nanar. Sebenarnya, aku hanya sedang merindukan momen yang sama satu bulan yang lalu. Pada waktu yang sama, di meja yang sama, dan pesanan yang sama. Aku menunggu ponselku berdering. Menunggu nama Gus tampil di layarnya, kemudian aku segera menerima teleponnya, bercengkerama dengan lelaki itu.
            “Maaf,” katanya, “saya akan pergi kalau kehadiran saya mengganggu.”
            “An, kau akan menghargai tiramisu ini berapa euro kalau kau bisa mengembalikan momen di satu bulan yang lalu, saat kali pertama kita bertemu, saat kau melihat saya mengabaikan telepon masuk dari saudara saya?”
            An menatapku bersama kedua alis yang bertaut.
            “Ya, sebut saja, An, saya akan membayar berapa pun. Asal, saya bisa kembali ke masa itu. Bercengkerama dengan Gus, mendengar suaranya untuk terakhir kalinya. Atau, saya bisa mencegahnya berbuat konyol yang membuat nyawanya sendiri terenggut.” Aku sudah mirip dengan orang prustasi saat itu.
            Lawan bicaraku menatapku dengan lekat, seolah dirinya bisa merasakan apa yang sedang kurasakan saat itu; rasa kehilangan serta penyesalan. Mulut An bergerak, tetapi tidak ada suara. Kami berdua bergeming selama beberapa saat. Lalu, lonceng kecil di dekat pintu berdencing, seorang perempuan yang biasa mengisi kursi di sampingku muncul, dan An segera menyambut kedatangan perempuan itu.
            Perempuan berbaju koki itu lalu berdiri, menghampiri tamu di meja di sampingku.
            “Souffle cokelat.” Perempuan yang datang bersama hujan menyebutkan pesanan. Lalu, aku hanya mendengar sepasang sepatu perempuan berbaju koki itu meninggalkan meja.
            Aku menyendok tiramisu di hadapanku pada akhirnya. Rasanya seperti biasa. Manis, lembut dan lumer di lidah. Aku membuka tas, mengecek ponsel, dan tidak ada tanda apa-apa. Tidak ada panggilan, maupun pesan teks. Aku kembali menyendok tiramisu, dan pada sendok terakhir, aku merasakan ada yang aneh dalam tiramisu di mulutku. Rasanya tidak seenak tadi. Agak asin.
            Saking menikmati kue di hadapanku, seraya mengurai harapan-harapan yang mustahil terjadi, aku tidak menyadari kehadiran An yang mengantarkan kue pesanan perempuan di meja di sampingku. Dan, sebelum berlalu, perempuan berbaju koki itu menyerahkan selembar tisu kepadaku.
            “Kau butuh ini,” katanya. Setelah itu, An tidak lagi bicara, hanya mengulas senyum getir. Dan, setelah aku menerimanya, dia berlalu begitu saja, membiarkan aku sendiri.
***
            Satu bulan kemudian, pada Selasa sore, aku mengunjungi kembali toko kue di kawasan Suburban. Pada hari yang sama, tanggal yang sama, jam yang sama, meja yang sama, dan pesanan yang sama.
            “Teh hijau, dan kue seharga enam euro per potong,” aku berkata kepada pramusaji yang segera mencatatnya, kemudian berlalu.
            Kali ini, hujan turun mendahuluiku. Dari balik jendela, aku hanya bisa menatap sisa-sisa air yang menggenang di tepi jalan. Serupa kepergian Gus. Kepergian lelaki itu hanya menyisakan sepenggal kenangan dan penyesalan yang, sialnya, keduanya tidak pernah datang di awal.
            Dan sesungguhnya, aku tidak tahu sampai kapan akan melakukan ini, mengunjungi toko kue ini supaya bisa kembali pada momen dua bulan yang lalu, saat Gus menghubungiku di telepon, dan mengirim tiga pesan teks.
            “Selamat sore,” seseorang menyapaku, tetapi bukan suara perempuan berbaju koki.
            Aku menoleh ke arah suara itu berasal, dan memang bukan. Dia perempuan cantik berkaus tanpa lengan berwarna ungu. Aku melihat garis-garis wajah An di wajah perempuan itu. Sedikit, ya hanya sedikit.
            “Aku Galuh,” perempuan itu memperkenalkan sambil menggeser kursi di seberangku. “Hari ini toko kue kami sedang tidak membuat tiramisu. Maaf.” Dia memasang ekspresi menyesal.
            “Oh,” aku menggumam, sedikit kecewa.
            “Sebagai gantinya, kami membuat ini.” Dia menggeser gelas koktail besar berisi sesuatu yang berwarna-warni. “Ini macaron yang sama yang dibuat An untuk perempuan pembawa hujan yang biasa duduk di meja di sampingmu. Ah, An memang absurd. Sekarang, dia menyuruh kami membuatkan ini untukmu,” jelas perempuan bernama Galuh. Lalu, dia menggeser secarik kertas kepadaku.
            “Ini juga dari An. Dia sudah tidak bekerja lagi di Afternoon Tea. Sebelum pergi, dia menitipkan ini kepadaku.”
            Aku mengambil secarik kertas itu, lalu kubilang, “Terima kasih.” Setelah itu, perempuan bernama Galuh beranjak, membiarkan aku sendiri.
            Tanganku bergetar saat membuka secarik kertas yang An titipkan kepada perempuan bernama Galuh. Ah, sangat klise. Surat perpisahan, padahal, baru dua kali kami bertemu. Tetapi, rasa ingin tahu memaksaku membukanya.
            “Enam euro tidak terlalu mahal untuk macaron dalam gelas koktail besar di hadapanmu, Moses Ariadinata, jurnalis di majalah sastra kesukaan Arlet,” tulis An.
            Aku tersenyum saat perempuan itu mengetahui nama lengkapku, dan juga majalah tempatku bekerja. Aku menyicip macaron di hadapanku, lalu kembali aku membaca surat yang ditulis An.
            “Bagaimana? Menyesal karena kau harus membayar enam euro untuk kue ini? Menyesal karena bukan kue enam euro sungguhan yang kau makan? Menyesal karena saat ini tidak hujan? Menyesal karena tidak ada lagi perempuan yang datang bersama hujan di meja di sampingmu? Menyesal karena telepon saudaramu saat itu tidak kau angkat? Menyesal karena kau telah membenci masa lalu?”
            Kerongkonganku tercekat kala aku membaca tulisan tangan An dalam secarik kertas yang kugenggam. Dan, setelahnya, aku berubah menjadi lelaki yang amat cengeng saat membaca kalimat terakhir yang ditulis oleh perempuan berbaju koki yang pernah memamerkan seulas senyum aktor sore itu.
            “Dan, sekarang, sudah saatnya kau melepaskan masa lalu itu, Moses.”
            Pesan terakhir yang sekaligus membuatku tersadar. Sudah saatnya aku melepaskan masa lalu, seperti gumpalan awan hitam yang rela melepaskan butiran hujan, kendati dia adalah pemiliknya.
***       
*Ini adalah cerita pendek, yang kalau kata Yuli Pritania disebut drabble; sejenis fan fiction yang mengambil latar tempat; toko kue Afternoon Tea, tokoh An, Galuh, dan perempuan yang datang bersama hujan dalam novel Walking After You-Windry Ramadhina
**Cerita utama diambil dari salah satu novel saya yang ditulis tahun 2012. Kisah kakak beradik, Moses dan August yang sampai saat ini belum saya sentuh kembali. Tentang penyesalan Gus, dan tentang kebencian Moses, dan tentang perempuan yang jatuh cinta pada seseorang hanya melalui sebuah cerita.
***Dan ini cerpen pertama saya, setelah bertahun-tahun tidak lagi menulis cerita pendek. Ternyata sangat sulit, ya. Ckckck.

Interval: Time and Space to Talk


Judul             : Interval: Time and Space to Talk
Penulis           : Dion Sagirang & Nay sharaya
Editor            : Anin Patrajuangga
Penerbit         : Grasindo

Sinopsis:
Anna
Kupikir aku akan selalu baik-baik saja dalam keluarga yang kacau ini. Hingga kemudian, beberapa kesialan datang tiba-tiba dan mengejutkanku.
Kakakku, pemuda asing yang genius itu selalu mendapatkan apa saja dengan mudah,lalu menyia-nyiakannya. Seorang gadis Jepang yang perlahan-lahan merebut tempatku yang nyaman. Dan terakhir, seorang pria, guru misterius yang penuh rahasia dan akhirnya melibatkanku dalam kekacauan yang tak pernah kualami sebelumnya.
Semuanya muncul bersamaan dan membuatku sadar bahwa bertahan sendiri tidak lagi semudah dulu.
Erash
Dulu aku pernah berbagi tawa bersama gadis itu. Pada sore yang cerah, kami menaiki sepeda yang sama, melewati hari-hari dengan bahagia. Seperti kisah-kisah dalam dongeng.
Lalu, mari kita tengok sekarang. Dia, gadis yang pernah berbagi tawa bersamaku telah menjelma sosok yang tidak kukenali. Ada sorot benci yang sulit kuejawantahkan saat dia menatapku, dan tatapan itu seperti cara seseorang menatap musuh. Padahal, gadis itu adalah adikku.
Sekarang, saat hidupnya didera banyak masalah, apa aku masih punya alasan untuk tetap peduli?






Selasa, 16 September 2014

Selamat Berpisah, Selamat Bertemu di Satu Tahun Kemudian

Dan, hening... Percakapan kita kali ini didominasi dengan saling diam. Menjadi kaku. Entah sejak kapan, aku tidak tahu tepatnya. Seingatku, sejak kita tak lagi meniti di jalan yang sama. Kamu telah menentukan pilihan, dan aku tidak menjadi pilihanmu. Kamu tengah bersama dengan yang lain, sementara aku masih sendiri. Aku hanya mencoba melangkah ke jalan lain, mengikuti pilihanmu. Terpaksa. Mau tidak mau. Namun, selalu tidak berhasil. Melupakanmu akan menjadi nomor ke sekian, menghindarimu adalah hal tersulit. Barusan aku sedang berbicara kenyataan, terserah kamu mau memandang bagaimana. Atau, barangkali kamu memiliki jawaban lain? Kamu lalu mengiyakan dengan tegas. Mengatakan bahwa semua hal yang terjadi berawal dari beberapa buah kesalahan. Kesalahanku, kesalahanmu dan kesalahan kita. Kita, menyadari itu berbarengan. Aku tidak mencoba memungkiri, aku tidak akan mengelak atau memberikan pembelaan atas kenyataan itu. Kuakui. Dan kemudian aku berterima kasih kepada masa lalu, kepada sang waktu. Dia memang ajaib. Dia datang dan mengubah banyak hal di dunia ini. Perlahan dia mengubah cara pikirku, serta merta mengobati luka yang tak kunjung sembuh. Setidaknya, waktu juga tidak memberikan penghakiman tentang pilihanmu. Benar atau salah, itu tidak penting lagi. Hanya saja, aku memiliki pandangan yang tidak sama lagi tentang kita. Aku dan kamu. Hah, apa? “Aku tidak menyangka bahwa ini akan terjadi,” katamu memecah hening. Suaramu serak dan agak tersendat. Sebelumnya kamu bilang sedang sakit tenggorokan, dan sudah diobati, tetapi masih belum juga sembuh. Sejenak pikiran nyelenehku menggumam, ‘Diobati saja tidak cepat-cepat sembuh, apa kabar lukaku?’ tapi tidak sampai kusuarakan. Tidak penting juga. Oh ya, kalau saja aku bisa meramalkan itu, tentu saja aku akan mencegahnya. Sekuat tenaga, aku akan berusaha. Bila perlu, aku akan mengorbankan yang lainnya, demi kita. Memangnya, di dunia ini siapa orang yang siap dengan perpisahan? Termasuk aku. Kujawab dengan suara serupa, “Aku juga,” tetapi suaraku tidak serak. Tenggorokanku tidak sedang sakit, hanya bagian yang lain saja yang sakit. Sudah lama, tidak perlu dibahas. Tidak penting juga. Kemudian aku mengulas senyum. Kamu bisa melihat senyumku yang kecut kalau saja barusan kamu menatapku, sayangnya tidak. Sebenarnya, selama ini yang lebih tak kusangka lagi adalah, aku bisa menjalani hidupku sendiri, tanpa kamu. Sejauh ini, aku bisa menghadapinya. Sendirian. Hei, tepuk tangan dong! Lalu kata-kata kembali hilang tertelan hening. Cukup lama, hingga yang kudengar saat itu hanya embusan napasmu yang berat. Aku tidak bisa lagi berkata-kata. Kamu juga begitu. Kita seolah kehabisan bahan obrolan. Tapi kemudian aku berpikir, banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi kemudian aku sadar. Kita telah berbeda. Tak ada lagi kita. Yang tertinggal sekarang hanya kamu, dan aku; Seorang gadis yang memilih jalannya sendiri, dan seorang pemuda yang mengikuti pilihan gadis itu untuk menempuh jalannya yang lain. Oke, jujur saja, aku tidak nyaman jika obrolan yang langka ini hanya diisi dengan hening. Aku terus berpikir, menyinkronkan otakku dengan lidahku. Tapi tidak bisa. Dalam keadaan normal, mungkin aku bisa berceloteh, melontarkan humor-humor yang garing—dan biasanya kamu tertawa karena itu. Karena garing, maksudku—Kadang aku bisa memberikan petuah-petuah yang hanya kau tanggapi dengan sebuah anggukan manis, atau cerita-cerita tidak penting tapi menjadi penting untuk sekadar membumihanguskan keadaan saling diam. Aku telah kehilangan kemampuanku untuk berkata-kata, atau barangkali karena tubuhku yang lelah. Kamu juga begitu, tidak? Atau, kamu malah punya jawaban lain, aku tidak tahu. Sudah kubilang, aku bukan peramal. Tetapi aku bisa menebak. Oke, kutebak, barangkali inilah yang membedakan obrolan-obrolan aku dan kamu di bulan-bulan yang lalu. Sebuah perbedaan yang membuat ketidakbersamaan kita semakin kentara. Tidak ada pilihan. Mau sampai kapan kita akan terbelenggu oleh kebisuan? Aku tidak mau. Obrolan ini... sangat berharga. Maka, aku bercerita tentang perasaanku. Juga tentang orang-orang yang dengan gamblangnya menyerukan, “Obat patah hati adalah dengan mencari hati yang baru!” Hei, memangnya jatuh cinta itu ibarat mendatangi kedai makanan cepat saji kala sedang lapar, hah? Kamu datang, kamu duduk, kamu memesan, kemudian makanan dihidangkan, dan kamu makan dengan lahap hingga perutmu kenyang. Sesederhana itu, kamu yakin? Kamu memilih tidak menjawab. Maka, kulanjutkan lagi ceritaku. Tentang ketidakmampuanku untuk melupa. Ketidakbisaanku melepaskan dan ketidakbecusanku membuka hati yang baru. Tidak sepertimu, bukan? “Tidak seperti itu,” tukasmu dengan cepat. “Lalu, bagaimana cerita yang sebenarnya?” kutanya kamu, mungkin nadaku barusan seperti seorang penyelidik. Maafkan aku, sedikit terpancing soalnya. Kamu kemudian bercerita. Tentang separuh hatimu yang lain. Kamu membaginya seolah hatimu adalah secangkir minuman hangat di tengah hujan yang mengguyur. Aku sebenarnya tidak bertanya, tidak mau menanyakan, tepatnya. Aku sudah menemukan jawabannya sendiri. Sangat gamblang. Bodoh saja bila aku tidak bisa tahu. Apa yang menjadi ketidakbisaanku, malah menjadi hal yang mudah untukmu. Kamu melakukan semua itu dengan baik. Lalu? Tidak ada lagi suara. Hening kembali merasuki percakapan kita. Setelah itu, kamu bertanya tentang hal yang tidak kusuka darimu. Aku tidak ingin menjawab, sebenarnya. Segala hal yang ada dalam dirimu, aku suka. Aku tidak mungkin mengatakan hal minus dalam dirimu, karena aku menerima semua yang ada dalam dirimu, tanpa iming-iming lain. Karena kupikir, seperti itulah kerja cinta. Jika sebelumnya kamu berpikir bahwa cinta membutakan, aku malah percaya bahwa cinta akan menyinari ruang yang gelap, menuntun langkah kita pada jalan yang tepat. Ini yang paling kusayangkan. Kita tidak lagi berada pada jalan yang sama. Aku tidak dapat menerangimu, begitu juga sebaliknya. Tetapi kemudian aku memilih mengatakannya, melanggar janjiku. Kudengar embusan napasmu setelah itu, dan tidak ada lagi suara lain. “Jam berapa sekarang?” kutanya kamu dengan suara berat. Sedikit berbasa-basi, sekadar mengusir hening. Aku sudah tahu pukul berapa saat itu. Ayam milik tetanggaku sudah berkokok tiga jam yang lalu. “Setengah empat,” jawabmu dengan suara berat yang sama. Sudah saatnya obrolan antara aku dan kamu berakhir. Dini hari, tidak baik kalau didengar orang. Padahal, aku pura-pura. Aku tidak mengantuk, aku tidak sedang ingin tidur, apalagi dengan bayang-bayangmu yang tidak serta merta enyah dari pikiranku. Suaramu yang lirih yang sampai detik ini masih bisa membuat dadaku bergetar tidak karuan itu masih terngiang-ngiang saja di telingaku. “Selamat tidur,” ucapmu. “Selamat tidur juga,” ucapku, “Selamat ulang tahun, omong-omong. Sampai berjumpa lagi di ulang tahun berikutnya.” Aku mengakhiri dan setelah itu, perasaanku menjadi tenang, sekaligus semakin tidak karuan. Aku tidak sedang jatuh cinta, aku juga tidak sedang patah hati. Aku tidak sedang apa-apa, seharusnya. Hanya saja, aku sedang merasakan dua hal yang bertolak belakang secara bersamaan. Aku senang, sekaligus sedih. Bagaimana denganmu? -04 Sep. 14 Pada malam yang sudah sangat-sangat larut.

Minggu, 01 Juni 2014

Diwawancarai Imajiner oleh Hadi Kentang




        Ceritanya, pada libur akhir pekan yang cukup panjang, saya memutuskan untuk rehat dari segala aktivitas, kemudian memilih Pantai Kuta untuk menenangkan diri sambil riset kecil-kecilan buat naskah novel yang sedang ditulis, eh diedit maksudnya. Mau percaya atau tidak, yang jelas saya tidak sedang serius, lho.
        Jadi, saat itu saya sedang berjemur di tepi pantai, menikmati cahaya matahari yang lagi terik-teriknya. Intinya sih lagi tan gratisan. Tetapi tiba-tiba saja saya diganggu oleh suara dehaman seseorang yang tidak hanya satu dua kali, lebih lah. Ada empat kali. Lalu, saya membuka mata dan mendapati kawan lama saya yang sekarang sudah beralih profesi menjadi wartawan infotainment. Dari tivi dan acara apa, dia malah merahasiakannya. Saya sempat ragu, jangan-jangan ini sejenis liputan investigasi, which is, suara saya nanti jadi mirip orang bengek dan wajah saya juga kena sensor.

Minggu, 18 Mei 2014

The Shabanas Family


Episode 2
Meet Dennis
The Shabanas Family
Me, My brorther, My Uncle, My Pet and My Parents...

            Sekolahnya Shasha sama Nenes itu letaknya berada di antara dua jalan, eh tiga kali ya. Tapi katanya salah...! Ada empat, kira-kira. Aduh rada bingung juga menjelaskannya. Jadi, sekolahnya itu dikitari jalanan besar yang cukup lengang, di tepinya terdapat pohon besar nan menjulang tinggi. Membuat daerah sekitar jadi sejuk.
Bangunan yang berdiri megah itu sudah agak tua, tapi belum setua Albert Einstein. Kalau kata mamang yang jualan es cingcau di sekitar, gedung bertingkat itu dibangun pas jaman Belanda. Dan menurut bibi penjual lotek di dekat taman, bangunannya agak-agak horor gitu. Tapi ya udahlah, Shasha dan Nenes sekolahnya kan cuma siang hari, itu pun sampe jam 12 teng.Jadi kepala sekolah ngasih jaminan enggak bakalan serem, deh.
            Buktinya, Shasha sama Nenes betah-betah aja. Sebelumnya, Negara juga alumnus SMA sana. Tapi, dia hampir aja enggak mengecap predikat alumnus, artinya, masih betah jadi dedengkot sekolah sana. Jadi begini ceritanya... dulu, menjelang pelaksanaan ujian nasional, Negara terkena DBD dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pada saat itu, mami syok banget. Lebih syok ketika dia enggak berhasil dapetin baju lucu yang sudah di PO di Ci Oliv[1] gara-gara kelupaan transfer.
            Pas dikabari Negara pingsan sebelum mengisi soal-soal UN, mami langsung ngibrit aja dari kantornya di jalan Asia Afrika. Dengan wajah yang pucat pasi kayak habis dibanjur formalin sebaskom, mami langsung masuk kelas dan berniat bantu ngebuletin lembar jawaban Negara. Tapi saat itu panitia langsung menggiring mami buat masuk ke ruang UKS. Karena panik, dia langsung aja bawa Negara ke rumah sakit dan selama dua minggu Negara enggak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Sekadar maen game di iPad pun dia minta tolong ke suster supaya bisa masuk ke season selanjutnya.
            Lalu, perjuangan mami selanjutnya adalah, bagaimana supaya Negara bisa ikut ujian nasional. Dia kerja keras banget, lho... kesian ya mami. Tapi syukur, karena setelah berdiskusi dengan kepala sekolah, pihak sekolah memberikan kesempatan kepada Negara untuk ikut ujian susulan dan syukur lagi, dia bisa lulus. Ya, meski nilainya enggak memuaskan, mami sih udah enggak berharap. Asal Negara lulus dan dia enggak dicibir ibu-ibu komplek saat arisan mingguan, mami mah udah bersyukur banget pokoknya lah....
***
            Siang itu, Shasha sama Nenes jalan bergandengan. Mereka enggak merasa risih lagi dengan tatapan teman-temannya yang memandangnya agak sinis, dulu malah pernah ada yang komen gini juga lho, “Kembar sih kembar, tapi enggak perlu kemana-mana bareng juga kali.” Shasha sempet down pas dikatain gitu sama kakak kelas. Dia enggak mau sekolah lagi di sana. Langsung kepengen Home Schooling.Mami jelas enggak setuju. Dia ingin putra-putrinya merasakan masa mudanya dengan bahagia. Untungnya, Nenes kasih semangat, kalau di sekolah umum mereka bakal dapetin pacar yang cakep kayak Kakak Rangga di film AADC dan setelah itu, Shasha balik lagi sekolah. Hore...
            Mereka berdua berjalan menuju gedung serbaguna. Mau nemuin best friend forever, sahabat sehidup enggak semati mereka yang lagi latihan karate. Namanya Inayah Nurhasan, biasa dipanggil Inay. Rumahnya di daerah Rajawali yang cukup terkenal. Hampir semua warga sekolah tahu, karena Inay suka naik angkot ataupun damriyang di jendelanya tertulis jurusan Rajawali-Elang. Eh sekarang nama daerah itu agak elit karena tertempel di bus Trans Metro Bandung, lho. Beruntung banget. Inay harus segera berterima kasih sama Bapak Ridwan Kamil.
            Setelah masuk, Shasha dan Nenes liat Inay lagi pasang kuda-kuda dan latihan meninju, menendang, meninju, menendang dan terus gitu-gitu aja sampai Inay lelah dan duduk di lantai. Waktu istirahat Inay itu, Shasha sama Nenes gunakan untuk menghampirinya. Mereka tadi ngeliat dari jarak jauh, sekadar jaga jarak aja. Inay kalau latihan enggak pakai kacamata. Dia kan minus berapa gitu, ya, jadi mereka berdua takut kena tinju gitu.
            “Inay haus?” tanya Shasha.
            Inay melihat kedatangan Shasha sama Nenes dengan kening berkerut. Dia kan enggak pakai kacamata, jadi agak sulit mengenali orang. Lalu setelah mengetahui, dua gadis yang berdiri di depannya adalah sahabatnya, dia masang wajah ingin membunuh.
            “Ya iyalah haus, masa pengen pipis...” Jawab Inay, nadanya ketus banget.
            “Ya udah, ini, Nenes bawain air.” Nenes langsung aja ngasihin tumbler di tangannya ke Inay yang langsung menenggaknya sampai habis.
            “Tumben kalian baik,” nada Inay skeptis, “Ini enggak diracun, kan?”
            “Enggak kok Inay,” Nenes langsung motong. “Mana mungkin ada racunnya, kecuali...” Nenes enggak melanjutkan. Dia malah menatap Shasha seolah memberi kode, menyerahkan hak menjelaskan kepada kakaknya.
            “Kecuali kalau ada yang niat ngeracunin guru satu sekolahan, Inay...” Shasha melanjutkan penjelasan Nenes.
            “Jadi... kalian...” mata Inay melotot.
            “Iya, kami ambil airnya di ruang guru. Enggak apa-apa kok, siapa tau kamu makin pinter.”
            “Enggak ngaruh kali!” Inay mendengus, enggak rela banget kayaknya. “Sudah kuduga.”
            Lalu Shasha sama Nenes mengempaskan tubuhnya ke lantai, ikut-ikutan Inay yang sedang melepas lelah. Gedung serbaguna sudah lengang, enggak ada lagi siswa yang latihan atau sekadar jalan-jalan doang karena pada akhirnya mereka semua sadar, ini bukan mal.
            Shasha sama Nenes sikut-sikutan. Niatan mereka menemui Inay adalah buat curhat. Tadi di kelas enggak sempet karena kalau curhat di kelas, mereka berdua suka enggak sadar mereka curhat ke semua orang, padahal niatan curhatnya cuma ke Inay doang. Mereka lagi-lagi berbicara dengan batinnya, menunjuk siapa yang akan bilang ke Inay.
            Akhirnya, Nenes yang bilang. “Inay, mami mau nikah lagi. Aduh gimana ya nasib kami entar...”
            “Serius?” mata Inay langsung melotot. “Mami mau nikah sama siapa?”
            “Enggak tau. Soalnya mami mah enggak pernah bawa laki-laki ke rumah. Jadi kami bener-bener enggak tau.” Shasha menarik napas, seolah masalah yang dihadapinya sangatlah berat sehingga pemerintah juga harus ikut andil menyelesaikannya.
            “Mmm..” Inay tampak mikir. Bagaimanapun, dia udah kayak tong sampah yang suka mendaur ulang sampahnya secara otomatis. Dia suka langsung ngasih solusi buat si kembar. “Jangan-jangan, mami mau nikah lagi sama perempuan? Aduh ini gawat!” lalu mendapati tatapan si kembar kayak mau membunuh balik, Inay langsung takut dan mulai serius.
Kata Inay, “Ada dua kabar yang harus kalian terima atas rencana mami kalian. Mau enggak mau kalian harus denger, itu mutlak.” Tangannya mengibas-ibas ke wajahnya karena kepanasan. Padahal enggak ngaruh banyak sih.
            Shasha sama Nenes langsung nyimak dengan serius.
            “Kabar pertamanya, kalian harus bersyukur, karena mami kalian masih laku.”
            “Ih, perempuan secantik mami mah enggak mungkin ada yang nolak kali, Inay.” Shasha enggak terima.
            Nenes ikutan. “Iya Inay, mami kan pernah jadi Mojang Bandung dulu. Lagian, bahasa inggrisnya mami lancar banget.”
            “Enggak nyambung deh, Nes jodoh sama bahasa inggris!” Inay langsung sewot lalu memberi kabar selanjutnya. “Nah yang kedua, kalian harus hati-hati. Aduh, ini gimana ya ngomongnya. Aku agak-agak enggak tega...”
            “Ihh... apaan Inay?” Shasha masang wajah penasaran. Nenes juga. Ya, namanya juga anak kembar.
            “Gini, kalian pernah denger cerita kalau ibu tiri itu sangat jahat?”
            “Bawang Putih disiksa sama ibu tirinya dan juga Bawang Merah.” Sahut Nenes langsung keingetan dongeng itu.
            “Putri tidur juga, dia disiksa ibu tirinya.” Inay kasih referensi lain.
            “Sangkuriang juga mau nikahin ibunya.” Nenes kembali kasih referensi yang langsung direspons Inay dengan pelototan.
            “Itu mah enggak nyambung, Nenes!”
            “Terus apa kesimpulan dari obrolannya, Inay?” Shasha yang sejak awal enggak ngerti lalu protes.
            “Jadi gini, kita udah pada tahu, kalau ibu tiri itu jahat. Nah, ibu tiri aja jahat, gimana ayah tiri? Hei, kalian tau kan, ayah itu pemimpin di rumah kita. Jadi, kalian mau apa dipimpin sama orang jahat? Ih, aku mah sih enggak mau.” Premis Inay kayaknya langsung ditelan mentah-mentah oleh Shasha dan Ines.
            Lalu hening...
            “Gimana dong, Kak?” Nenes tanya ke Shasha.
            Shasha Cuma geleng-geleng sambil berkata, “Padahal kita berdua udah setuju. Cuma Kak Gara aja yang enggak. Tapi dia mah mudah dipengaruhi.”
            Inay langsung mencibir sambil membuang pandangan, “Kayak kalian enggak aja...”
            “Apa Inay, kamu ngomong apa barusan?” Shasha mencium aroma kejahatan di diri sahabatnya itu.
            “Oh enggak kok, enggak ngomong apa-apa.” Inay jelas-jelas ngeles. “Jadi, gimana keputusan kalian?”
            Shasha sama Nenes menggeleng barengan.
            Tuh kan labil, bisik Inay dalam hati. “Mending kalian pikir-pikir lagi, deh. Jangan sampai hidup kalian diatur-atur sama orang yang jahat...”
            Shasha dan Nenes lalu mikir.
***
            Shasha sama Nenes masih mikir. Enggak tahu sampai kapan, kalau enggak disadarkan dengan beberapa orang yang masuk gedung serbaguna tempat mereka bertiga duduk-duduk santai kayak di balkon rumah sendiri. Ada lima murid laki-laki yang masih mengenakan celana abu-abu, sedangkan atasannya pake kaus. Ada tiga murid perempuan yang masih lengkap pakai seragam. Dua murid laki-laki bawa gitar. Satu murid perempuan bawa biola. Sisanya, mereka bawa diri masing-masing aja.
            “Eh eh, kayaknya gedungnya mau dipake latihan deh,” Nenes angkat bicara. Merasa diri mereka harus segera hengkang dari sana.
            “Emangnya kenapa?” Inay langsung sewot aja.
            “Iya, kita keluar yuk. Sambil nunggu Mang Adun, kita makan mi ayam dulu di depan.” Shasha sekarang udah punya inisiatif sendiri menghadapi sopirnya yang suka telat jemput itu.
            “Tenang dulu aja, aku masih capek, tau!” bentak Inay, “Lagian, ini kan fasilitas umum, siapa aja boleh diem di sini, asal jangan dibawa ke rumah aja, kan?”
            Enggak mau kena tinju Inay yang sangar, Shasha sama Nenes langsung ngangguk. Agak enggak ikhlas. Tapi bodo ah, Inay enggak peduli. Yang jelas, dia pengen santai-santai aja dulu di sana.
            “KALIAN NGAPAIN MASIH DI SINI?” ucap seseorang dari arah samping.
            Kontan, Inay, Shasha sama Nenes berbalik ke arah suara. Mendapati sosok... aduh, sebutin aja ya, ganteng dengan mata sayu, kulit putih, rambut lurus, alis tebal, hidung mancung, telinga ukuran sedang, lubang hidung bulat sederhana. Dia pakai kaus warna putih dan cocok banget di badannya.
            “Kami mau latihan, dan enggak mau didenger orang lain. Jadi, kalian kalau memang menggemari puitisasi kami, nonton aja di acara Pensi entar. Enggak perlu bayar kok.” Ucap pemuda itu dengan nada sinis, seolah berkata gini, “Kalian enggak bakal mampu kalau ada tiket masuk!”
            Aduh ya, pemuda itu bikin Inay marah. Tangannya udah gatel pengen ninju wajahnya. Lantas dia berdiri, “Eh kamu ngomong apa barusan? Apa maksudnya?” dan tinju Inay langsung melayang, mendarat di pipi pemuda itu.
            Pemuda itu langsung memekik, memegangi pipinya yang kena bogem Inay.
            Melihat itu, Shasha sama Nenes langsung berdiri, memegangi Inay supaya kemarahannya enggak sampai membabi buta. Dan mereka cukup berhasil.
            “Inay, udah, tahan. Kamu enggak mau dipanggil Pak Dadang ke ruang BP, kan?”
            “Bodo, yang penting aku puas. Apa-apaan dia, berani-beraninya ngusir. Enggak tau apa, aku putrinya Bapak Hasan.” Inay mencoba melepas pegangan Shasha sama Nenes.
            “Apa yang kamu lakuin barusan, memukulku?” pemuda itu menatap Inay tajam, tapi lebih ke meringis, sih. Ngilu mungkin.
            “Bukan! Mencium dengan ini,” Inay mengacungkan tinjunya lagi, membuat pemuda itu mundur selangkah.
            Dari arah kumpulan teman-teman pemuda itu, salah seorang berteriak. “Dennis... ada apa?” lalu mereka berlari ke arah Inay, Shasha dan Nenes, dan pemuda itu juga, seolah mereka mau tawuran.
            Tiga lawan delapan, ya tetep kalah tiga lah. Shasha tumben mikir itu, ya? jadi dia milih meminta maaf sama pemuda yang dipanggil Dennis itu. Sekompak mungkin, dia sama Nenes narik tangan Inay supaya keluar dari gedung itu.
“Dasar cewek barbar. Keturunan tarsan kali!” sebelum keluar, Inay sempat dengar pemuda itu menggerutu. Inay masih belum puas, tapi Shasha sama Nenes narik tangannya kayak dia lagi narik sekarung sampah. Dia akhirnya bisa keluar juga. Lalu marahnya berpindah sama si kembar. Tapi buru-buru Shasha sama Nenes traktir dia es cendol. Inay jadi enggak marah lagi, deh.
***
Keterangan:
The Shabanas Family ini adalah tulisan iseng yang akan saya posting setiap saya punya mood buat nulis dan minta Hadi Kentang buat mempostingnya. Spoiler dikit, di episode 3 dengan judul “Keluarga Tante Ning” kamu bakal balik lagi ke rumah Mami, ketiga anaknya, mamang Akim dan Miw-miw yang masih ngebet ngawinin kucing anggora punya tetangga. Kata Dennis, keluarga mereka aneh banget. Enggak setuju lah, Pak Pida menikahi perempuan dengan keluarga aneh macam mereka! Apalagi, di rumah itu ada kucing setengah anggora yang... Dennis takut sama kucing. Geli dan jijik! Enyah kamu kucing bandel!




[1] Pemilik onlensop yang suka nge-PINK!!! Mami di jam dua belas malem buat nawarin koleksi baju-baju terbarunya yang lucu-lucu. Konon, Ci Oliv udah mulai menjaring Shasha sama Nenes juga lho, buat beli koleksi pakaian dia. Katanya, buat si kembar mah cocok baju-baju ala Korea dan mereka langsung tergoda aja buat beli. Tapi sumpah, itu PING!!! Di jam segitu suka ganggu banget deh. Kalau dia nge-PING!!! Negara, udah pasti Negara bakal delkon dia. Tapi mereka mah enggak temenan.