Sabtu, 10 Mei 2014

The Shabanas Family


Me, My brorther, My Uncle, My Pet and My Parents...



Episode 1
Rencana Pernikahan Mami
            Pada suatu malam di salah satu rumah dua lantai dengan enam kamar di sebuah perumahan bernama Perumahan Batu Nunggal, Bandung, Jawa Barat, Indonesia, Bumi.
Shasha dan Nenes saling berpelukan, tapi enggak mesra karena mereka hanyalah sepasang adik kakak yang pernah berbagi tali pusar bareng di dalam kandungan maminya. Kedua gadis berusia enam belas tahun itu berpelukan sambil menangis sesenggukan, seolah mereka sekeluarga besok akan ikutan gabung dalampeperangan which is merekahanya dibekaliperalatan bambu runcing dan ketapelseadanya.
            Belum lama banget sih mereka nangis, baru tiga puluh menit setelah maminya mengabarkan, bahwa dia akan segera menikah lagi. Mengisi lembaran baru untuk hidupnya yang hampa setelah ditinggal papinya yang meninggal di medan perang. Intinya sih, maminya itu kesepian. Seenggaknya, Negara yang bisa menyimpulkan hal itu, karena semenjak maminya mengutarakan keinginan yang selama ini dipendamnya, pemuda yang kuliah di jurusan listrik itu hanya terdiam, menundukkan kepalanya dan sesekali membalas Blackberry Messanger yang masuk di iPad mininya. Eh, sesekali dia cengar-cengir juga pas ada chat yang masuk.
            “Kok kalian malah nangis...?” Mami bertanya heran, satu alis tatonya terangkat dengan cantik.
            “Mami kok tega, ngekhianatin Papi gitu aja sih?” protes Nenes dengan nada merajuk, mewakili pertanyaan kakaknya yang masih sesenggukan dalam pelukannya.
            Mendengar itu, mami malah tersenyum lebar. “Bukannya gitu, sayang,” lalu diam, memikirkan kalimat yang layak diucapkan. “Kita semua tinggal di rumah ini ibarat berada pada sebuah kapal yang sedang berlayar. Untuk sampai di tempat tujuan berlabuh, kita membutuhkan kapten di dalamnya.” Penjelasan mami sangat diplomatis.
           “Serius, Mi? Jadi, sebenarnya rumah kita ini kapal?” kali ini Shasha yang berkomentar dan sebelum itu, dia segera mengusap air mata plus ingusnya dengan punggung tangan.
            “Ish, Kak Shasha apaan sih, enggak nyambung banget!” Nenes menyikut perut Shasha. Sebenarnya, dia ingin sekali mencubitnya pakai capit kepiting. Tapi urung karena mereka berdua alergi dengan makhluk yang cara jalannya abnormal itu.
            “Iya kan, Mi?” Shashaenggak mengacuhkan protes adiknya, dia malah mempertegas pertanyaannya pada maminya yang masih tersenyum selebar daun kelor.
            “Maksud Mami, kita perlu pemimpin laki-laki di rumah ini.” Jelas mami, masih dengan nada yang sangat tenang, setenang air di dalam galon.
            Shasha menatap Nenes dengan ekspresi kecewa karena bayangannya terempas begitu saja, jadi rumahnya bukan kapal sungguhan!Enggak disangka, Nenes juga memperlihatkan hal serupa. Dia berkata lirih ke telinga Shasha, “Yah..., kirain bener ya, Kak. Nenes pikir, kita bakal kayak di komik One Piece gitu.L
            “Eh itu komik kan punya si Mamang rental, belum kamu balikin?”
            Nenes menggeleng, takut dimarahi kakaknya karena sesuai janji, komik yang Shasha pinjam dan dibaca bersama, maka Nenes yang harus balikin ke mamang rental. Kalau Nenes yang minjem, berarti Shasha yang ngembaliin. Nah, kalau dua-duanya yang minjem, mereka suka iseng nyuruh mamang pengantar galon yang ngembaliin ke mamang rental. Tapi ngomong-ngomong, ini hari ke sembilan dari jadwal pengembalian komik. Jadi, siap-siap aja Shasha kena marah si mamang tukang rental komik yang punya rambut plontos kayak Samuel Rizal itu. Eh, enggak marah juga, deng, paling kena tegur sama denda aja sembilan ribu perak.
            Diskusi si kembar sifat itu seketika terhenti ketika mendapati abang mereka yang dikiranya autis karena begitu asik dengan gadget di tangannya, lagi BBM-an sama pacar baru kayaknya, mulai bersuara. Tapi sebelumnya berdeham-deham dulu, karena ada dahak mungkin di tenggorokannya.
            “Di rumah kita kan ada Mamang, Mi.” Ucap Negara dengan nada parau. Dia sama sekali enggak mengangkat wajahnya yang cukup digemari geng para jerawat itu. “Mamang juga laki-laki, kan?” nadanya protes, tapi protesnya enggak sampai sebrutal para pendemo di gedung sate.
            Mami menghela napas berat, seolah beban terberat dalam hidupnya selain telah menjadi single parent selama satu setengah tahun, adalah memiliki putra putri seperti mereka. Beberapa kali dia beristighfar, semoga apa yang menimpa anak-anaknya itu bukan sebuah kutukan dari Tuhan gara-gara selama hamil, dia jarang banget mengucapkan, ‘amit-amit’ dan ‘ampun paralun’ sambil ngelus perut buncitnya.
            “Bukan gitu, Gara, maksudnya Mami—” ucapan mami kepotong gara-gara dari arah dapur, Akim datang dengan membawa piring di tangannya.
            “Ladies and gentleman... kita hentikan talkshow kita dan jeda dengan beberapa gorengan Midog berikut.” Mamang Akim menyimpan piring di tangannya yang berisi dengan beberapa potong Midog[1] yang dipotong ala pizza dan juga seiprit saus pedas di sisi piring. Setelah itu, dia ikutan duduk di sofa. Tangannya enggak bisa diam banget. Dia langsung bergelirya, mengambil satu potong Midog dengan tangan kanannya dan tangan yang lain mengambil remot di sampingnya, menyalakan televisi plasma dan langsung memilih saluran gosip.
           Mami sih maklum aja dengan kelakuan adik tirinya yang berasal dari kampung Bayongbong, Garut itu. sebenarnya kadang dia muak dengan kelakuannya, tapi ketika melihat ibunya mamang yang merupakan ibu tirinya mami yang meminta dia merawat mamang semana dia menyayangi ‘Miw-miw’, kucing peranakan anggora yang merupakan hewan peliharaan mereka. Ya udahlah, mami juga sayang mamang kok, kayaknya.
            “Mamang, kapan skripsinya selesai?” Mami tiba-tiba aja keingetan soal itu dan langsung menanyakannya. Mamang ini sudah masuk tahun ke tujuh kuliahnya, tapi belum ada tanda-tanda dia bakal wisuda. Meskipun adik tiri, ya tetap aja dia merasa terbebani dengan amanat ibu tirinya di Garut yang selalu mengirim chocodot dan brodol setiap awal bulan. Kalau mau marah, mami suka luruh sama sogokan dua makanan itu. Marah suka enggak jadi, deh.
            “Mmm... mmm... mmm...” Mamang Akimtergeragap. Lalu, dia mengalihkan kembali tatapannya ke layar televisi. “Aduh itu info si vokalis band yang liburan bareng janda ke Bali. Ah, ini pasti agenda setting, supaya bisa ngangkat nama janda itu. Padahal dia udah enggak beken lagi.” Celotehnya, seolah perkataan mami di telinganya hanya sebuah teriakan dari tukang sayur langganan yang berjualan pada saat adzan zuhur udah lewat lima belas menit.
            Kali ini mami mengembuskan napas, hampir menyerah menghadapi orang-orang yang tinggal di rumahnya itu. Tapi, sejak lahir, dia sudah ditakdirkan untuk menjadi perempuan setrong. Buktinya, selama ini dia bisa menjalani kehidupannya, mengurus tiga anak, satu adik tiri, satu pembantu, satu tukang kebun, satu sopir dan satu kucing setengah anggora yang suka kelayaban mencari kucing betina milik tetangga.
            “Pokoknya, Gara enggak setuju, Mi... apapun yang terjadi.” Setelah mengucapkan itu, Negara berdiri dan meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya di ruang atas.
            Mami menatap kepergian putra pertamanya yang agak keras kepala seperti mendiang papinya. Begitu juga Shasha dan Nenes yang ikutan menatap abangnya. Kalau mamang Akim sih masih mantengin gosip vocalis band dan janda cantik di infotainment.
            Mendapati raut sedih di wajah mami, Shasha dan Nenes saling memandang, dan enggak lama kemudian mereka saling mengangguk. Anak kembar itu seolah berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang cuma dia dan anak-anak kembar sedunia yang tahu. Mereka berdua lalu beranjak, menghampiri mami dan memeluknya seraya berkata dengan kompak.
            “Kita setuju, kok Mi... asal Mami seneng, kita juga bakal seneng.”
            Mami sungguh bahagia luar biasa, senang dunia akhirat karena pada akhirnya dia punya kubu yang mendukung dan pastinya bakalan jadi tim sukses. Kedua tangannya terangkat, mengusap lembut rambut panjang kedua putrinya yang sekarang sudah tumbuh besar, sudah enggak kutuan lagi dan mereka sudah naik kelas XI di SMA negeri favorit di Bandung.
            “Eh Mi, itu Abang Gara balik lagi,” bisik Nenes ke telinga maminya.
            “Iya, kayaknya Abang juga setuju deh.” Shasha ikutan berbisik dan ketiganya sudah siap berpelukan bareng-bareng.
            Negara yang mendengar bisik-bisik adiknya langsung menyela, “Eh apa coba, orang cuma mau ngambil iPad doang.” Benar, diacuma mengambil iPad-nya yang tertinggal di sofa, lalu kembali berbalik menuju kamarnya buat ngelanjutin chattingbareng pacarnya yang merupakan anak kelas sebelah itu. Enggak tahu sih namanya siapa, dan enggak perlu tahu juga lah ya.
            Ketiga orang itu pun menatapnya dengan kecewa.
            “Eh Ceuceu coba lihat, ini ada berita tentang pengacara yang mulutnya ember itu mau bercerai... katanya, sekarang mereka lagi masalahin harta gono-gini.”
            Sejak lahir, Mamang Akim emang udah ditakdirkan salah, kayaknya. Dia adalah orang yang salah, dan tinggal dengan orang-orang yang salah juga. Dan atas kesalahannya itu, tiga orang perempuan di dekatnya kini menatapnya dengan tajam, kayak Miw-Miw yang pengen dilepas karena sudah enggak kuat pengen ngawiniwinin kucing anggora punya tetangga.
***
Keterangan:
The Shabanas Family ini adalah tulisan iseng yang akan saya posting setiap saya punya mood buat nulis dan minta Hadi Kentang buat mempostingnya. Spoiler dikit, di episode selanjutnya, Shasha dan Nenes bakal curhat soal maminya ke Inay yang merupakan sahabatnya di sekolah. Kira-kira, gimana ya respons Inay akan rencana pernikahan maminya si kembar itu? Ah, kayaknya enggak penting juga sih tahu responsnya si Inay. Karena di espisode 2 dengan judul ‘Ketemu Dennis’, kamu bakal ketemu cowok ganteng yang jago main gitar dan bikin puisi. Sesuai namanya, cowok itu berkarakter agak peDENdam dan sedikit siNIS.



[1] Sejenis makanan halal, terbuat dari mie yang dicampur dengan telur, lalu digoreng. Biasanya disantap pada saat akhir bulan, karena cuma dua bahan makanan itu yang tersedia di dalam kulkas yang sudah agak bau-bau gitu. Paling pas ditemani dengan air putih aja.

Prolog dalam Beautiful Regret


Prolog
MALAM itu langit tanpa pendar bintang. Benar-benar gelap dan sunyi. Salju yang turun sore tadi masih menyisakan rasa dingin yang menyecapi kulit. Meski sudah memakai jaket wol yang cukup tebal, tetap saja, pemuda yang sedang duduk di bangku selter bus itu terpaksa menautkan kedua telapak tangannya. Lalu digosok-gosokkannya untuk mengusir rasa dingin yang mendera.
Malam semakin larut, tetapi pemuda itu masih termangu di tempat itu. Entah kenapa, bus yang ditunggunya tak kunjung datang. Apakah tumpukan salju menghalangi laju bus? Rasanya tidak mungkin karena salju turun tak begitu lebat. Tetapi bagaimanapun juga, ia harus menunggu bus terakhir ketimbang harus menggunakan taksi yang bayarannya bisa berkali-kali lipat.
Udara dingin semakin menyerang tubuhnya, membuatnya sedikit tergigil. Ia merutuki dirinya sendiri karena tak mendengarkan saran ibunya untuk membawa jaket cadangan. Kali ini ia tak bisa lagi melawan rasa dinginnya. Kemudian dimasukkan kedua tangannya pada saku mantel. Meski pikirannya mulai tidak fokus, tetapi telinganya masih bisa menangkap sebuah suara.
Suara teriakan seorang perempuan yang meminta tolong!
Pemuda itu berdiri. Kepalanya menoleh ke arah kiri dan kanan,mencari sumber suara itu berasal.
Seorang gadis berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua orang pria yang tengah mengganggunya. Keduanya terlihat sedang mabuk. Aroma alkohol menguar dari mulut mereka. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman dua orang bertubuh besar itu selain berteriak.
Sekuat tenaga gadis itu melakukannya, berharap siapa pun yang masih berkeliaran di area selter bus segera menolongnya. Meski rasanya mustahil karena tempat tersebut sudah sangat sepi, tetapi harapan masih tertumpu di benaknya.
Menyaksikan hal tersebut, pemuda itu kalap. Setengah berlari, ia keluar. Mencari sesuatu di sekitarnya yang bisa digunakan untuk melawan kedua pria itu. Ditemukannya potongan kayu yang tergeletak tak jauh dari sana. Bersama pikirannya yang kalut, ia mengambilnya, dan...
“Bukkk!!!”
Satu pukulan langsung melayang pada pundak pria berperawakan tinggi besar yang sedang mendekapkan tangannya pada bahu gadis itu. Seketika pria itu meraba pundaknya, dan kesempatan itu digunakan gadis itu untuk melepaskan diri. Pukulan kedua dan ketiga pun dilayangkan hingga tubuh besarnya langsung terhuyung dan terjatuh menahan sakit.
Rupanya pemuda itu lengah. Pria satunya yang bertubuh pendek namun berbadan besar langsung mendaratkanpukulan ke wajahnya, membuatnya sedikit terpental. Namun ia kembali siaga dan balik memukul lawannya dengan sembarang. Memukul ke perut, wajah dan bagian tubuh lainnya. Karena mereka sedang mabuk, maka tidak banyak perlawanan. Beberapa saat setelah banyak pukulan dilayangkan dengan sembarang, kedua pria itu pun tersungkur pada longgokan salju di tepi jalan.
Pemuda itu berjalan menghampiri gadis yang masih terlihat syok. Ia mengulurkan tangan, dan dengan gemetar, gadis itu meraihnya. Keduanya kini dalam posisi saling berhadapan. Pemuda itu sempat mencium aroma alkohol yang menyengat dari mulut gadis di hadapannya, kemudian pemuda itu mengajaknya berlari meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di selter tempat tadi ia menunggu bus, tubuh gadis itu seketika ambruk.
“Ya1! Agassi2... apa yang terjadi denganmu?” pemuda itu tampak panik. Ia langsung mendudukkan gadis itu di bangku.
Pemuda itu turut duduk di sebelahnya. Napasnya terengah-engah. Butir keringat mengalir dari keningnya. Setidaknya, melawan dua pria tadi bisa membuat tubuhnya yang gigil sedikit mengeluarkan keringat dingin. Namun yang menjadi permasalahannya kini adalah, apa yang harus ia lakukan terhadap gadis yang tengah tertidur di bangku itu.
Ia berpikir keras.
Tanpa sadar, ia mencermati wajah gadis di sampingnya.
1. Kata seruan
2. Nona
“Sepertinya, aku pernah melihatnya. Tapi di mana...?” gumamnya. Tetapi ia segera menepisnya. Pikirnya, itu bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut.
Ya! Bangun...!” berkali-kali ia menepuk-nepuk pipi gadis itu, namun tak membuahkan hasil.
Gadis itu tetap tak sadarkan diri. “Sepertinya gadis ini terlalu banyak mengonsumsi alkohol!” tebaknya.
Karena tidak mungkin meninggalkannya sendirian di selter yang sudah sepi, sebersit ide muncul di benaknya. Tidak ada pilihan lain baginya, selain membawa gadis itu ke rumahnya.
Tidak lama kemudian, seberkas cahaya menyilaukan pandangannya. Bersamaan dengan suara deru mesin yang mendekat. Pemuda itu tahu bahwa bus yang ditunggunya telah datang. Dengan sedikit kepayahan, ia menggandeng gadis itu dan membawanya masuk ke dalam bus. Kebetulan di dalam tidak banyak penumpang. Hanya terlihat seorang kakek di kursi depan dan dua laki-laki yang tampak asik dengan perbincangan mereka.
Sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti, pemuda itu menyandarkan kepalanya pada sandaran di belakangnya. Seiring bus yang melaju meninggalkan selter, matanya mulai merayapi kota Seoul yang sudah mulai sepi.
❀❀❀


 Ket: Prolog dalam Beautiful Regret

Blurb Beatiful Regret

Mengenangmu serupa menyesap luka yang manis...
Han Seon Mi jengah dengan obesesi Han Tae Ra yang hanya menjadikannya mesin penghasil uang. Pikirnya, dengan kabur ia bisa terbebas dari sangkar emas yang diciptakan kakaknya itu, lalu mendapatkan kehidupan yang diinginkannya. Namun dugaannya salah! Setelah malam itu, ia terjebak dalam situasi pelik yang mengharuskannya mengambil keputusan.
Kesalahan terbesar yang membuat seumur hidupnya dirundung penyesalan.
Shin Yong Hee tak tahu kalau niat tulusnya malam itu akan berbuntut pahit. Pemuda itu gagal mengikuti pameran lukisan yang selama ini dicita-citakannya, kemudian Drop Out dari kampusnya. Tidak berhenti di sana. Gadis yang telah diselamatkannya itu mengandaskan impiannya, menghancurkannya dengan fitnah yang keji!
Anehnya, tak sedikit pun Shin Yong Hee menyesalinya. Malah, kebenciannya pada Han Seon Mi perlahan luruh dan mulai tergantikan dengan perasaan lain. Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada gadis itu?
❀❀❀
Tidak akan lama lagi, saya akan berjumpa dengan bentuk utuh novel ini setiap saya jenuh dengan rutinitas dan memilih melarikan diri ke toko buku. Menurut keterangan editor via chatting di Blackberry Messanger, Beautiful Regret sudah tersebar di toko buku mulai tanggal 19 Mei 2014. Itu kabar yang membahagiakan, dan patut dirayakan.
            Perjuangan saya selama ini cukup terbayar. Sebelum masuk tahap proof-reading, beberapa kali saya dihubungi Mbak Anin Patrajuangga yang menawarkan beberapa alternatif kaver. Terhitung ada tiga kaver yang dia sodorkan dan saya adalah orang yang tidak bisa memilih. Maka saya mulai vote ke beberapa teman. Saya belum berani publish ke media sosial, maka hanya dilakukan dari obrolan demi obrolan di media chatting.
            Dari ketiga alternatif yang saya tawarkan, tidak ada satu pun yang unggul. Semuanya sama rata, menambah kebingungan di benak saya. Kemudian saya membicarakan kembali dengan editor dan pada akhirnya, saya dibebaskan dalam pengonsepan kaver. Editor langsung menunjuk Jang Shan yang sebelumnya juga pernah membuat kaver untuk novel-novel terbitan Grasindo.Dan... Jang Shan adalah teman baik saya, itu kabar baiknya. Dan chat via Whatsapp dan BBM pun dipenuhi dengan gambar dan gagasan-gagasan saya yang barangkali bikin Jang Shan ingin meninju saya.
            Awalnya, saya ingin membuat tiga konsep untuk diajukan ke editor, namun ditengah kesibukkan Jang Shan dan deadline novel yang sudah dikejar jadwal terbit, maka Jang Shan hanya berhasil membuat satu saja dan, puji syukur, saya cukup puas.
            Selain itu, saya membuat blurb novel ini dengan sangat sederhana, bukan kalimat-kalimat puitis yang kadang tidak ada kaitannya dengan isi. Saya tidak sedang menjual pepesan kosong. Harapannya, semoga empat paragraf di atas bisa mewakili isi novel dan tentu saja, menarik minat calon pembaca.
            Baiklah, kita hentikan keluh kesahnya dan mari rayakan dengan satu kata...

Cheers...

@dionsagirang


Rabu, 30 April 2014

Di Balik Pandang ‘Si Biru Muda Pudar’




Awal tahun 2013, saya dihadapkan pada euforia penyambutan dua novel terbaru saya yang akan terbit di dua penerbit berbeda. Painful Love hanya tinggal menunggu naik cetak sementara yang ke-3 sudah hampir masuk tahap editing. Sebelumnya, saya mengedit ulang, mengajukan beberapa alternatif blurb yang eyecatching, tentunya, dan tinggal menunggu kabar selanjutnya.
                Tetapi apa yang terjadi, saya berubah pikiran. Saya menyadari betul, kesempurnaan tidak bisa kita raih, tetapi kepuasan...? Saya percaya, kita bisa mendapatkan tahapannya. Saya tidak puas dengan naskah yang awalnya saya beri judul ‘Pendar’ itu. Kemungkinan untuk terbit pada tahun itu saya hempaskan. Setelah berpikir secara matang dan meminta saran beberapa teman, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirim email kepada editor, dengan alasan ingin ‘memperbaikinya’, lantas saya menarik kembali naskah saya tersebut dan... editor mengijinkan, puji syukur, meski sedikit disesalkan, “Padahal naskah sudah masuk tahap editing.” Katanya.
            Dan setelah itu, saya tidak tahu harus melakukan apa. Naskah Pendar saya simpan dulu, saya disibukkan dengan premis-premis baru yang tak sedikit pun saya matangkan. Selama hampir dua bulan saya duduk di depan laptop tanpa juntrungan. Kemudian samar-samar, saya mendengar percakapan ayah saya dengan Jatnik-abang saya-yang sedikit menyadarkan saya. ‘Moro Julang Ngaleupaskeun Peusing’ Kalimat itu bukan sejenis mantra, tetapi peribahasa sunda yang mengartikan, “Melepaskan sesuatu yang sudah pasti, untuk sesuatu yang tidak pasti.” Saya diskak mat oleh perkataan ayah saya itu.
            Tetapi saya menguatkan diri, saya punya alasan. Ingin naskah saya lebih baik, kenapa tidak? Maka saya mulai menulis ulang Pendar dengan POV orang pertama. Saya berhasil menuliskan lima bab pertama, dan kemudian saya dihubungi editor Grasindo untuk menuliskan naskah ‘Beautiful Regret’ yang sebelumnya berupa outline. Dan mau tidak mau, saya menanggalkan ‘Pendar’ sejenak dan kemudian memfokuskan diri untuk menulis naskah romance berlatar Korea Selatan itu sampai awal desember. Setelah selesai tahap firstreading dan editing, saya segera mengirimkannya ke editor.
            Saya bisa bernapas dengan lega setelah itu. Satu minggu sebelum Natal, saya mulai mematangkan beberapa premis dan mulai mengundi naskah mana yang akan saya tulis berikutnya. Namun saya berlaku curang terhadap diri saya sendiri. Karena pada saat itu, saya tidak memilih naskah undian. Saya membulatkan tekad untuk melanjutkan menulis Pendar. Waktu itu saya berpikir, menuliskannya pada saat itu, atau tidak sama sekali. Pada beberapa hal, kita memang harus tegas dengan diri sendiri, bukan?
            Oke, dari lima bab itu, saya kembali merombaknya. Pendar akan jemu jika ceritanya dikisahkan dari sudut pandang ‘Dillan’ saja. Maka saya kembali mengganti POV ke semula. Saya merombak dan menambahkan banyak bagian untuk naskah Young Adult saya ini dan setelah menikmati liburan-hiking ke gunung tertinggi di Garut-saya mulai menuliskan kisah Dillan, Jeff, Yos, Hannah dan segala kemelutnya.
            Perkembangannya cukup pesat. Terhitung, tiga bulan kurang lebih saya menuliskannya dan... kau tahu, saya menuliskannya hingga 29 bab dari yang awalnya 20 bab. Bagi saya itu serupakegilaan. Saya takut menuliskan sesuatu yang tak penting, tetapi jika dihilangkan, saya takut banyak hal yang hilang. Sementara ini, saya mendiamkan dan mulai menyebarkan naskah ini ke beberapa pembaca pertama saya dengan harapan akan mendapat banyak masukan dari mereka. Dan sekarang, sembari nge-proofreader naskah ‘Beautiful Regret’ yang rencananya akan terbit bulan Mei, saya sedang mengeditnya.
Selama perjalanan menulis, judul berganti menjadi All that Matters. Bagi saya, ini judul yang paling tepat, karena kerumitan konflik yang dialami banyak tokoh dalam naskah ini. Baik itu Dillan, Jeff, Yos ataupun Hannah memiliki bagian yang membuat cerita saling berhubungan. Tolong, jangan anggap ini cerita remaja tentang cinta segitiga, segiempat atau segi-lainnya. Meski tebakanmu hampir mendekati, tetapi inti dari ceritanya bukan terletak di sana. Percayalah....
Drama keluarga menjadi latar cerita ini. Di postingan sebelumnya saya mengatakan, saya menulis apa yang saya suka. Sementara saya sangat menyukai hal-hal tentang keluarga. Dan konflik awal yang saya sajikan sangat klise. Tentang perselingkuhan. Menurut saya, ini bagian yang menarik karena dalam naskah remaja yang saya bidik ini, tidak hanya diceritakan dari sudut pandang anak, tetapi juga orangtua. Karena saya pikir, dalam kasus perceraian, bukan hanya anak yang menjadi korban, tetapi orangtua sendiri adalah korban. Mereka sama-sama korban dalam sudut pandang yang berbeda, tentunya.
Saya tidak tahu naskah ini akan sampai kapan selesai edit, karena saya merasa belum puas dan belum puas. Tetapi saya ada rencana membawa outline dan sinopsisnya terlebih dulu untuk dikonsultasikan dengan editor. Semoga naskah yang paling saya sukai ini akan segera menemui jodohnya, bisa segera berubah wujud dalam bentuk lembar dengan aroma kertas yang khas dan beralih ke tanganmu. Iya, kamu... J

Cheers

Dion Sagirang

Sabtu, 08 Februari 2014

H

Hai, H... apa kabar?

Bagiku, kau bukan sekadar inisial. Bukan pula abzad ke delapan yang tak mampu berdiri sendiri untuk merangkai kata. Bagiku, kau bisa menjadi (H)ati, (H)idup, atau (H)arapan. Bisa pula kau adalah (H)atiku, (H)idupku serta (H)arapanku yang pada akhirnya kau (H)empas pada satu pilihanmu...

H, sudah berapa persimpangan kita lewati dengan berpapasan, saling bertemu muka, namun tak di antara kita bertegur sapa. Segaris senyum pun, tak pernah berhasil kita sunggingkan. Satu sama lain, berpaling pada arah yang tidak akan membuat kita bersitatap. Satu kali, dua, tiga, atau puluhan?

Kita merupa dua orang asing yang tak saling mengenal. Atau, kita pernah saling mengenal, tetapi entah pada dimensi mana kita pernah mengisi cerita dalam meja yang sama. Tersenyum atas cerita lucu yang kita tawarkan.

Terus terang saja, H, itu bukanlah inginku.

Jujur, ketika kita berpapasan pada gang kecil menuju tempat indekostmu, aku ingin menyapamu. Sekadar basa-basi. Tak apalah, aku melakukannya hanya padamu. Namun, semua selalu menjadi angan-angan. Kau tahu apa alasannya?

Tak ada alasan setidakmasuk akal ini, "Karena hadir gejolak rasa yang tiba-tiba saja membuat lidahku kelu, H... apa kau juga merasa demikian?"

Sampai detik ini, hanya kau yang dapat melakukan itu, H... Membuatku merasa menjadi makhluk paling bodoh saat berada di dekatmu. Belum ada gadis lain yang dapat melakukannya. Mereka datang dan pergi, seolah aku hanyalah tempat persimpangan.

Terkadang aku bertanya kepada diri sendiri, "Kapan kau akan kembali jatuh cinta?"

Sementara batinku menjawab lemah, "Belum ada gadis lain yang bisa membuat dadamu bergetar ketika kau tengah bersamanya. Membuatmu tak mampu menatapnya, selain sesekali kau mencuri pandang tanpa diketahui olehnya. Atau seseorang yang bisa membuatmu tersenyum selayak orang gila ketika mendapat pesan singkat darinya."

Itu gila kan, H? Tetapi mencintaimu dalam diam itu sangat menyenangkan. Bahagia. Tidak ada kata lain. Mana mungkin cinta begitu menyakitkan? Itu hanya ada dalam novel roman yang pernah kutulis. ‘Pernah’ dekat denganmu saja bahagiaku sungguh luar biasa. Apalagi selamanya?

Belum ada yang lain, H. Sungguh.

Coba kau hitung, sudah berapa lama aku jatuh-cinta-dalam-diam kepadamu? Tapi percayalah, kadar cintaku tidak tertakar...

Dan hujan kali ini mengingatkanku pada satu senja; pada eskrim, pada payung yang menaungi dan tentu saja, pada ‘kita’...

Sabtu, 18 Januari 2014

Pa, Ma, Please...!





(Windra)
            Akhirnya mereka memutuskan...
            Ini adalah situasi yang membuat guedan Windry tersudut. Oke, bisa dikatakan ini solusi terbaik buat mereka setelah hampir berbulan-bulan mereka berjibaku dengan ego masing-masing, merasa merekalah yang paling benar. Memposisikan diri sebagai manusia—sebagai seorang lelaki dan perempuan. Tak pernah memposisikan diri sebagai seorang ayah yang seharusnya bisa berpikir lebih bijak dan sebagai ibu yang lebih penyabar. Apakah mereka pernah berpikir dengan situasi kami sekarang?
            Palu sudah diketuk tiga kali. Setelahnya, gue sempat melihat mama dan papa bersalaman.Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Melihat itu, gue berharap kalau mereka tersenyum bukan karena putusan hakim. Ya, meskipun gue tahu, sepertinya itu mustahil. Dan setelahini, apakah hubungan gue dengan Papamasih bisa kayak dulu...? Terus apa gue masih bisa memanggil Mama dengan sebutan Mama? Lalu, gue akan tinggal di mana setelah ini?Bersama dengan siapa setelah beberapa bulan terombang-ambing dan memutuskan tinggal bersama Oma.

Selasa, 07 Januari 2014

Di Balik Kisah Kenaldy dan Nadine


“Painful Love”

Katamu cinta adalah sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum—bahkan bukan hanya kamu, tapi orang-orang yang berada di sekitarmu juga akan merasakannya.
Itu kan, katamu dulu? Dulu, ya... dulu.. tetapi sekarang?
Lalu hari ini, apa kata-katamu itu masih bisa dengan lantangnya kamu ucapkan. Tidak perlu dengan tersenyum pongah, hei ingat, aku hanya saudara lelakimu—bukan pesaingmu. Ingat itu! Tak ada niatku untuk merebut gadismu.
Tapi sekarang, aku memilikinya. Haha... apa kamu masih bisa tersenyum? Apa kamu akan tetap bahagia? Bodoh! Mengingat namamu pun kamu tak bisa.
Dan sekarang aku memiliki wanitamu!
Aku juga merebut wanitamu dari lelakinya!
Tapi aku tak sepertimu, memilikinya karena cinta hingga kamu merasakan kesakitan.
Karena sampai saat ini, aku tak pernah paham tentang cinta.
Aku memilikinya, untukmu. Ya, hanya untukmu!
Tunggu sejenak, aku hanya akan mengantarnya saja. Tidak lain! Tetaplah di sana, sampai wanitamu datang, lalu membawa apa yang selama ini kamu harapkan...
Cinta....
Februari 2013, saya dihubungi oleh sekretaris Media Pressindo yang mengabari kalau naskah novel yang saya kirim—kurang lebih tiga minggu sebelumnya—bersedia diterbitkan. Tentu saja, saya sangat senang. Pada waktu yang sama, saya sedang menantikan proses kelahiran novel komedi saya. Setelah telpon itu, saya dihubungi oleh Mbak Fatimah Azzahra, meminta revisi untuk ending. Dia menginginkan novel romance pertama saya ini berakhir dengan manis, bukan sebaliknya.

Maka demi kebaikan naskah saya sendiri, saya tidak menolak. Lagipula, saya tidak harus merombak naskah secara keseluruhan. Hanya menulis ulang bab terakhir dan epilog. Jujur saja, ketika itu saya buntu. Saya memilih cerita saya berakhir tragis lantaran, saya tidak menyukai happy ending. Maka, Mbak Fatimah menyarankan saya banyak menonton film romantis; Film Jepang, Korea, Thailand dll.

Seminggu kemudian, saya telah merampungkan tugas saya dan segera mengirimkan hasil revisi serta kelengkapannya kepada Mbak Fatimah dan setelah itu saya menunggu kabar baik selanjutnya.

Jujur saja, ini adalah naskah novel pertama yang saya tulis dan saya selesaikan. Bersama modal beberapa novel metropop sebagai referensi, maka lahirlah cerita Ken yang berniat membalaskan dendam kakaknya kepada wanita yang telah mengkhianatinya. Namun perjuangannya tidak berjalan dengan lancar. Wanita yang dikiranya mengkhianati kakaknya, telah menyimpan rahasia besar yang membuat Ken bergeming.
 
Lalu, bersama kenyataan yang baru diketahuinya, Ken urung membalaskan dendamnya dengan alasan, kakaknya bukan hanya satu-satunya korban. Wanita itu pun terluka. Salah satu alasan lainnya, adalah dengan hadirnya Nadine yang perlahan membuat dia percaya, bahwa cinta itu ada. Selain cinta yang menyakitkan, cinta juga hadir sebagai penawarnya.

Saya tidak akan panjang lebar memperkenalkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan Ken. Saya teramat menyukai karakter tokoh utama perempuan saya dalam novel ini. Dia adalah Nadine. Seorang gadis sederhana yang tentu saja memiliki ambisi dalam hidupnya. Lalu hadirnya Ken membuat dirinya sadar, ada hal yang lebih penting dari ambisinya, yakni cinta, kasih sayang serta ketulusan yang diberikan laki-laki itu.

Ah, lagi-lagi tentang cinta. Gadis itu baru menyadari bahwa hal-hal kecil yang Ken tawarkan, adalah sebentuk cinta yang hadir secara perlahan, namun pasti. Lalu dia menyadari cinta ada di antara mereka setelah merasakan kehilangan. Dia pun terluka, namun bersama cinta yang memberi keyakinan, dia bangkit dan terus berharap.

Meski tidak terlalu mendalam, tetapi saya menghadirkan setting kota Bandung—Jalan Braga, dua hotel besar di Bandung yang posisinya saling berhadapan dan stasiun kereta api—yang telah mempertautkan Ken dengan Nadine. Ada juga kota Jakarta dan di akhir, saya sedikit menuliskan stasiun kereta api Gare de Lyon-Paris, sebagai sajian penutup.

Baiklah, hanya itu yang bisa saya paparkan.  Mengenai kelanjutan kisah mereka, bisa dinikmati dalam novel Painful Love yang telah beredar di toko buku. Inilah debut saya sebagai penulis romance. Semoga suka...