Sabtu, 10 Mei 2014

Blurb Beatiful Regret

Mengenangmu serupa menyesap luka yang manis...
Han Seon Mi jengah dengan obesesi Han Tae Ra yang hanya menjadikannya mesin penghasil uang. Pikirnya, dengan kabur ia bisa terbebas dari sangkar emas yang diciptakan kakaknya itu, lalu mendapatkan kehidupan yang diinginkannya. Namun dugaannya salah! Setelah malam itu, ia terjebak dalam situasi pelik yang mengharuskannya mengambil keputusan.
Kesalahan terbesar yang membuat seumur hidupnya dirundung penyesalan.
Shin Yong Hee tak tahu kalau niat tulusnya malam itu akan berbuntut pahit. Pemuda itu gagal mengikuti pameran lukisan yang selama ini dicita-citakannya, kemudian Drop Out dari kampusnya. Tidak berhenti di sana. Gadis yang telah diselamatkannya itu mengandaskan impiannya, menghancurkannya dengan fitnah yang keji!
Anehnya, tak sedikit pun Shin Yong Hee menyesalinya. Malah, kebenciannya pada Han Seon Mi perlahan luruh dan mulai tergantikan dengan perasaan lain. Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada gadis itu?
❀❀❀
Tidak akan lama lagi, saya akan berjumpa dengan bentuk utuh novel ini setiap saya jenuh dengan rutinitas dan memilih melarikan diri ke toko buku. Menurut keterangan editor via chatting di Blackberry Messanger, Beautiful Regret sudah tersebar di toko buku mulai tanggal 19 Mei 2014. Itu kabar yang membahagiakan, dan patut dirayakan.
            Perjuangan saya selama ini cukup terbayar. Sebelum masuk tahap proof-reading, beberapa kali saya dihubungi Mbak Anin Patrajuangga yang menawarkan beberapa alternatif kaver. Terhitung ada tiga kaver yang dia sodorkan dan saya adalah orang yang tidak bisa memilih. Maka saya mulai vote ke beberapa teman. Saya belum berani publish ke media sosial, maka hanya dilakukan dari obrolan demi obrolan di media chatting.
            Dari ketiga alternatif yang saya tawarkan, tidak ada satu pun yang unggul. Semuanya sama rata, menambah kebingungan di benak saya. Kemudian saya membicarakan kembali dengan editor dan pada akhirnya, saya dibebaskan dalam pengonsepan kaver. Editor langsung menunjuk Jang Shan yang sebelumnya juga pernah membuat kaver untuk novel-novel terbitan Grasindo.Dan... Jang Shan adalah teman baik saya, itu kabar baiknya. Dan chat via Whatsapp dan BBM pun dipenuhi dengan gambar dan gagasan-gagasan saya yang barangkali bikin Jang Shan ingin meninju saya.
            Awalnya, saya ingin membuat tiga konsep untuk diajukan ke editor, namun ditengah kesibukkan Jang Shan dan deadline novel yang sudah dikejar jadwal terbit, maka Jang Shan hanya berhasil membuat satu saja dan, puji syukur, saya cukup puas.
            Selain itu, saya membuat blurb novel ini dengan sangat sederhana, bukan kalimat-kalimat puitis yang kadang tidak ada kaitannya dengan isi. Saya tidak sedang menjual pepesan kosong. Harapannya, semoga empat paragraf di atas bisa mewakili isi novel dan tentu saja, menarik minat calon pembaca.
            Baiklah, kita hentikan keluh kesahnya dan mari rayakan dengan satu kata...

Cheers...

@dionsagirang


Rabu, 30 April 2014

Di Balik Pandang ‘Si Biru Muda Pudar’




Awal tahun 2013, saya dihadapkan pada euforia penyambutan dua novel terbaru saya yang akan terbit di dua penerbit berbeda. Painful Love hanya tinggal menunggu naik cetak sementara yang ke-3 sudah hampir masuk tahap editing. Sebelumnya, saya mengedit ulang, mengajukan beberapa alternatif blurb yang eyecatching, tentunya, dan tinggal menunggu kabar selanjutnya.
                Tetapi apa yang terjadi, saya berubah pikiran. Saya menyadari betul, kesempurnaan tidak bisa kita raih, tetapi kepuasan...? Saya percaya, kita bisa mendapatkan tahapannya. Saya tidak puas dengan naskah yang awalnya saya beri judul ‘Pendar’ itu. Kemungkinan untuk terbit pada tahun itu saya hempaskan. Setelah berpikir secara matang dan meminta saran beberapa teman, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirim email kepada editor, dengan alasan ingin ‘memperbaikinya’, lantas saya menarik kembali naskah saya tersebut dan... editor mengijinkan, puji syukur, meski sedikit disesalkan, “Padahal naskah sudah masuk tahap editing.” Katanya.
            Dan setelah itu, saya tidak tahu harus melakukan apa. Naskah Pendar saya simpan dulu, saya disibukkan dengan premis-premis baru yang tak sedikit pun saya matangkan. Selama hampir dua bulan saya duduk di depan laptop tanpa juntrungan. Kemudian samar-samar, saya mendengar percakapan ayah saya dengan Jatnik-abang saya-yang sedikit menyadarkan saya. ‘Moro Julang Ngaleupaskeun Peusing’ Kalimat itu bukan sejenis mantra, tetapi peribahasa sunda yang mengartikan, “Melepaskan sesuatu yang sudah pasti, untuk sesuatu yang tidak pasti.” Saya diskak mat oleh perkataan ayah saya itu.
            Tetapi saya menguatkan diri, saya punya alasan. Ingin naskah saya lebih baik, kenapa tidak? Maka saya mulai menulis ulang Pendar dengan POV orang pertama. Saya berhasil menuliskan lima bab pertama, dan kemudian saya dihubungi editor Grasindo untuk menuliskan naskah ‘Beautiful Regret’ yang sebelumnya berupa outline. Dan mau tidak mau, saya menanggalkan ‘Pendar’ sejenak dan kemudian memfokuskan diri untuk menulis naskah romance berlatar Korea Selatan itu sampai awal desember. Setelah selesai tahap firstreading dan editing, saya segera mengirimkannya ke editor.
            Saya bisa bernapas dengan lega setelah itu. Satu minggu sebelum Natal, saya mulai mematangkan beberapa premis dan mulai mengundi naskah mana yang akan saya tulis berikutnya. Namun saya berlaku curang terhadap diri saya sendiri. Karena pada saat itu, saya tidak memilih naskah undian. Saya membulatkan tekad untuk melanjutkan menulis Pendar. Waktu itu saya berpikir, menuliskannya pada saat itu, atau tidak sama sekali. Pada beberapa hal, kita memang harus tegas dengan diri sendiri, bukan?
            Oke, dari lima bab itu, saya kembali merombaknya. Pendar akan jemu jika ceritanya dikisahkan dari sudut pandang ‘Dillan’ saja. Maka saya kembali mengganti POV ke semula. Saya merombak dan menambahkan banyak bagian untuk naskah Young Adult saya ini dan setelah menikmati liburan-hiking ke gunung tertinggi di Garut-saya mulai menuliskan kisah Dillan, Jeff, Yos, Hannah dan segala kemelutnya.
            Perkembangannya cukup pesat. Terhitung, tiga bulan kurang lebih saya menuliskannya dan... kau tahu, saya menuliskannya hingga 29 bab dari yang awalnya 20 bab. Bagi saya itu serupakegilaan. Saya takut menuliskan sesuatu yang tak penting, tetapi jika dihilangkan, saya takut banyak hal yang hilang. Sementara ini, saya mendiamkan dan mulai menyebarkan naskah ini ke beberapa pembaca pertama saya dengan harapan akan mendapat banyak masukan dari mereka. Dan sekarang, sembari nge-proofreader naskah ‘Beautiful Regret’ yang rencananya akan terbit bulan Mei, saya sedang mengeditnya.
Selama perjalanan menulis, judul berganti menjadi All that Matters. Bagi saya, ini judul yang paling tepat, karena kerumitan konflik yang dialami banyak tokoh dalam naskah ini. Baik itu Dillan, Jeff, Yos ataupun Hannah memiliki bagian yang membuat cerita saling berhubungan. Tolong, jangan anggap ini cerita remaja tentang cinta segitiga, segiempat atau segi-lainnya. Meski tebakanmu hampir mendekati, tetapi inti dari ceritanya bukan terletak di sana. Percayalah....
Drama keluarga menjadi latar cerita ini. Di postingan sebelumnya saya mengatakan, saya menulis apa yang saya suka. Sementara saya sangat menyukai hal-hal tentang keluarga. Dan konflik awal yang saya sajikan sangat klise. Tentang perselingkuhan. Menurut saya, ini bagian yang menarik karena dalam naskah remaja yang saya bidik ini, tidak hanya diceritakan dari sudut pandang anak, tetapi juga orangtua. Karena saya pikir, dalam kasus perceraian, bukan hanya anak yang menjadi korban, tetapi orangtua sendiri adalah korban. Mereka sama-sama korban dalam sudut pandang yang berbeda, tentunya.
Saya tidak tahu naskah ini akan sampai kapan selesai edit, karena saya merasa belum puas dan belum puas. Tetapi saya ada rencana membawa outline dan sinopsisnya terlebih dulu untuk dikonsultasikan dengan editor. Semoga naskah yang paling saya sukai ini akan segera menemui jodohnya, bisa segera berubah wujud dalam bentuk lembar dengan aroma kertas yang khas dan beralih ke tanganmu. Iya, kamu... J

Cheers

Dion Sagirang

Sabtu, 08 Februari 2014

H

Hai, H... apa kabar?

Bagiku, kau bukan sekadar inisial. Bukan pula abzad ke delapan yang tak mampu berdiri sendiri untuk merangkai kata. Bagiku, kau bisa menjadi (H)ati, (H)idup, atau (H)arapan. Bisa pula kau adalah (H)atiku, (H)idupku serta (H)arapanku yang pada akhirnya kau (H)empas pada satu pilihanmu...

H, sudah berapa persimpangan kita lewati dengan berpapasan, saling bertemu muka, namun tak di antara kita bertegur sapa. Segaris senyum pun, tak pernah berhasil kita sunggingkan. Satu sama lain, berpaling pada arah yang tidak akan membuat kita bersitatap. Satu kali, dua, tiga, atau puluhan?

Kita merupa dua orang asing yang tak saling mengenal. Atau, kita pernah saling mengenal, tetapi entah pada dimensi mana kita pernah mengisi cerita dalam meja yang sama. Tersenyum atas cerita lucu yang kita tawarkan.

Terus terang saja, H, itu bukanlah inginku.

Jujur, ketika kita berpapasan pada gang kecil menuju tempat indekostmu, aku ingin menyapamu. Sekadar basa-basi. Tak apalah, aku melakukannya hanya padamu. Namun, semua selalu menjadi angan-angan. Kau tahu apa alasannya?

Tak ada alasan setidakmasuk akal ini, "Karena hadir gejolak rasa yang tiba-tiba saja membuat lidahku kelu, H... apa kau juga merasa demikian?"

Sampai detik ini, hanya kau yang dapat melakukan itu, H... Membuatku merasa menjadi makhluk paling bodoh saat berada di dekatmu. Belum ada gadis lain yang dapat melakukannya. Mereka datang dan pergi, seolah aku hanyalah tempat persimpangan.

Terkadang aku bertanya kepada diri sendiri, "Kapan kau akan kembali jatuh cinta?"

Sementara batinku menjawab lemah, "Belum ada gadis lain yang bisa membuat dadamu bergetar ketika kau tengah bersamanya. Membuatmu tak mampu menatapnya, selain sesekali kau mencuri pandang tanpa diketahui olehnya. Atau seseorang yang bisa membuatmu tersenyum selayak orang gila ketika mendapat pesan singkat darinya."

Itu gila kan, H? Tetapi mencintaimu dalam diam itu sangat menyenangkan. Bahagia. Tidak ada kata lain. Mana mungkin cinta begitu menyakitkan? Itu hanya ada dalam novel roman yang pernah kutulis. ‘Pernah’ dekat denganmu saja bahagiaku sungguh luar biasa. Apalagi selamanya?

Belum ada yang lain, H. Sungguh.

Coba kau hitung, sudah berapa lama aku jatuh-cinta-dalam-diam kepadamu? Tapi percayalah, kadar cintaku tidak tertakar...

Dan hujan kali ini mengingatkanku pada satu senja; pada eskrim, pada payung yang menaungi dan tentu saja, pada ‘kita’...

Sabtu, 18 Januari 2014

Pa, Ma, Please...!





(Windra)
            Akhirnya mereka memutuskan...
            Ini adalah situasi yang membuat guedan Windry tersudut. Oke, bisa dikatakan ini solusi terbaik buat mereka setelah hampir berbulan-bulan mereka berjibaku dengan ego masing-masing, merasa merekalah yang paling benar. Memposisikan diri sebagai manusia—sebagai seorang lelaki dan perempuan. Tak pernah memposisikan diri sebagai seorang ayah yang seharusnya bisa berpikir lebih bijak dan sebagai ibu yang lebih penyabar. Apakah mereka pernah berpikir dengan situasi kami sekarang?
            Palu sudah diketuk tiga kali. Setelahnya, gue sempat melihat mama dan papa bersalaman.Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Melihat itu, gue berharap kalau mereka tersenyum bukan karena putusan hakim. Ya, meskipun gue tahu, sepertinya itu mustahil. Dan setelahini, apakah hubungan gue dengan Papamasih bisa kayak dulu...? Terus apa gue masih bisa memanggil Mama dengan sebutan Mama? Lalu, gue akan tinggal di mana setelah ini?Bersama dengan siapa setelah beberapa bulan terombang-ambing dan memutuskan tinggal bersama Oma.

Selasa, 07 Januari 2014

Di Balik Kisah Kenaldy dan Nadine


“Painful Love”

Katamu cinta adalah sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum—bahkan bukan hanya kamu, tapi orang-orang yang berada di sekitarmu juga akan merasakannya.
Itu kan, katamu dulu? Dulu, ya... dulu.. tetapi sekarang?
Lalu hari ini, apa kata-katamu itu masih bisa dengan lantangnya kamu ucapkan. Tidak perlu dengan tersenyum pongah, hei ingat, aku hanya saudara lelakimu—bukan pesaingmu. Ingat itu! Tak ada niatku untuk merebut gadismu.
Tapi sekarang, aku memilikinya. Haha... apa kamu masih bisa tersenyum? Apa kamu akan tetap bahagia? Bodoh! Mengingat namamu pun kamu tak bisa.
Dan sekarang aku memiliki wanitamu!
Aku juga merebut wanitamu dari lelakinya!
Tapi aku tak sepertimu, memilikinya karena cinta hingga kamu merasakan kesakitan.
Karena sampai saat ini, aku tak pernah paham tentang cinta.
Aku memilikinya, untukmu. Ya, hanya untukmu!
Tunggu sejenak, aku hanya akan mengantarnya saja. Tidak lain! Tetaplah di sana, sampai wanitamu datang, lalu membawa apa yang selama ini kamu harapkan...
Cinta....
Februari 2013, saya dihubungi oleh sekretaris Media Pressindo yang mengabari kalau naskah novel yang saya kirim—kurang lebih tiga minggu sebelumnya—bersedia diterbitkan. Tentu saja, saya sangat senang. Pada waktu yang sama, saya sedang menantikan proses kelahiran novel komedi saya. Setelah telpon itu, saya dihubungi oleh Mbak Fatimah Azzahra, meminta revisi untuk ending. Dia menginginkan novel romance pertama saya ini berakhir dengan manis, bukan sebaliknya.

Maka demi kebaikan naskah saya sendiri, saya tidak menolak. Lagipula, saya tidak harus merombak naskah secara keseluruhan. Hanya menulis ulang bab terakhir dan epilog. Jujur saja, ketika itu saya buntu. Saya memilih cerita saya berakhir tragis lantaran, saya tidak menyukai happy ending. Maka, Mbak Fatimah menyarankan saya banyak menonton film romantis; Film Jepang, Korea, Thailand dll.

Seminggu kemudian, saya telah merampungkan tugas saya dan segera mengirimkan hasil revisi serta kelengkapannya kepada Mbak Fatimah dan setelah itu saya menunggu kabar baik selanjutnya.

Jujur saja, ini adalah naskah novel pertama yang saya tulis dan saya selesaikan. Bersama modal beberapa novel metropop sebagai referensi, maka lahirlah cerita Ken yang berniat membalaskan dendam kakaknya kepada wanita yang telah mengkhianatinya. Namun perjuangannya tidak berjalan dengan lancar. Wanita yang dikiranya mengkhianati kakaknya, telah menyimpan rahasia besar yang membuat Ken bergeming.
 
Lalu, bersama kenyataan yang baru diketahuinya, Ken urung membalaskan dendamnya dengan alasan, kakaknya bukan hanya satu-satunya korban. Wanita itu pun terluka. Salah satu alasan lainnya, adalah dengan hadirnya Nadine yang perlahan membuat dia percaya, bahwa cinta itu ada. Selain cinta yang menyakitkan, cinta juga hadir sebagai penawarnya.

Saya tidak akan panjang lebar memperkenalkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan Ken. Saya teramat menyukai karakter tokoh utama perempuan saya dalam novel ini. Dia adalah Nadine. Seorang gadis sederhana yang tentu saja memiliki ambisi dalam hidupnya. Lalu hadirnya Ken membuat dirinya sadar, ada hal yang lebih penting dari ambisinya, yakni cinta, kasih sayang serta ketulusan yang diberikan laki-laki itu.

Ah, lagi-lagi tentang cinta. Gadis itu baru menyadari bahwa hal-hal kecil yang Ken tawarkan, adalah sebentuk cinta yang hadir secara perlahan, namun pasti. Lalu dia menyadari cinta ada di antara mereka setelah merasakan kehilangan. Dia pun terluka, namun bersama cinta yang memberi keyakinan, dia bangkit dan terus berharap.

Meski tidak terlalu mendalam, tetapi saya menghadirkan setting kota Bandung—Jalan Braga, dua hotel besar di Bandung yang posisinya saling berhadapan dan stasiun kereta api—yang telah mempertautkan Ken dengan Nadine. Ada juga kota Jakarta dan di akhir, saya sedikit menuliskan stasiun kereta api Gare de Lyon-Paris, sebagai sajian penutup.

Baiklah, hanya itu yang bisa saya paparkan.  Mengenai kelanjutan kisah mereka, bisa dinikmati dalam novel Painful Love yang telah beredar di toko buku. Inilah debut saya sebagai penulis romance. Semoga suka...

Sabtu, 28 Desember 2013

Tinjauan Film Tenggelamnya Kapal Van Deer Wijck


nyolong di google tadi
Saban hari saya pernah nyeletuk, “Saya ingin membuat blog khusus review buku dan film. Blog baru tersebut akan saya namai ‘Bufil’—singkatan buku dan film.” Tetapi saya malah menertawakan keinginan saya sendiri. Sementara blog ini saja, kadang-kadang diurus sama sahabat virtual saya—Hadi Tang, atau Maikel—yang katanya, mereka tak bisa menolak perintah saya yang oportunis ini. What the...?Manner pliis!
            Akhirnya saya memutuskan untuk menyampur-adukkan segala sesuatu yang ingin saya tulis pada blog ini. Yep, termasukreview pertama saya untuk film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
            Sebenarnya, saya sudah ada rencana, di hari terakhir UAS, saya akan menghabiskan waktu tersebut dengan hanya bersenang-senang. Selain alasan di atas, alasan lainnya adalah saya telah menyelesaikan naskah novel sebelum menutup tahun 2013. Sesuatu yang patut dirayakan, sebenarnya. Rencana pertama adalah, saya ingin nonton. Kemudian, saya teringat akan hadiah yang menjadi tahuran saya bersama Honesty—kita singkat saja menjadi Ones—yakni tiket nonton. Dulu, ketika saya mulai mengendus rencana novel Sunshine Becomes You akan difilmkan, saya menginginkan tiket gratis tersebut dialokasikan untuk menonton film itu. Tetapi apa dikata, bahkan sampai detik ini saya belum mengetahui perkembangan film yang diadaptasi dari novelnya Ilanna Tan tersebut.
            Karena takut si gadis asal Cirebon itu lupa akan janjinya, maka saya menagihnya untuk menonton kali itu. Sebenarnya tanpa tiket gratis itu pun, saya akan tetap menonton. Namun karena Ones takut dia kenal sial gara-gara tidak menepati janjinya—seperti tokoh Mia di novel Janji Es Krim—maka dia menepatinya. Yep, barangkali itu berkah natal untuk saya. Terimakasih Tuhan yang baik karena telah membuat Ones gagal move on dan kemenangan mutlak di tangan saya.

Senin, 23 Desember 2013

Di Balik ‘Luka’ Shin Yong Hee dan Han Seon Mi(Beautiful Regret)


Sekira bulan September, mood dalam menulis saya tengah buruk-buruknya. Keinginan untuk menyelesaikan naskah satu dan yang lainnya bertumpang tindih hingga akhirnya saya menyerah pada keinginan yang gila tersebut dan menenangkan diri selama beberapa jenak. Tetapi pada saat yang sama, satu inbox Facebook telah membuat semangat menulis saya kembali terpacu. Adalah pesan yang dikirimkan Mbak Anin Patrajuangga yang melakukannya. Pesan singkat tersebut menyebutkan kalau outline yang telah saya kirimkan—tepatnya saya sudah lupa—telah dipelajari dan Penerbit Grasindo bersedia menerbitkannya.
Tentu saja, itu adalah kabar yang cukup menggembirakan. Kehadirannya seolah memberi angin segar serta jalan yang harus saya tempuh saat itu, yakni menuliskan kerangka tersebut sampai selesai.
Tak serta merta Mbak Anin memberi kesiapan menerbitkan, kalau tidak memberi Dead Line. Ya, bulan Desember menjadi tenggat naskah ini harus selesai dan disetorkan dalam bentuk utuh, bukan lagi setengah rangkaian cerita.
Sementara dalam proses penulisannya, sempat didera kendala karena telah kehilangan feel Korea. Pada saat itu memang tidak banyak drama romance yang saya tonton, melainkan komedi dan serial detektif cyber yang membuat saya terbuai dengan kerumitannya. Tetapi kehabisan akal bukan tabiat saya. Ketika itu saya membeli novel terjemahan sebagai bahan referensi. Karena sejak awal, saya ingin mengonsep novel ini ala terjemahan, tetapi seiring berjalannya waktu, saya gagal membentuknya, tetapi saya berhasil menuliskannya dengan gaya saya sendiri tentunya.
Tulisan ini berlatar Korea Selatan—Demi Tuhan, ini bukan semata mengikuti tren, tetapi karena saya menyukai banyak hal tentang Korea, drama salah satunya—tetapi jangan terlalu berharap mendapat sajian tentang seluk beluk setting Korea yang mendalam—Pliis, ini bukan sebuah novel perjalanan—dan jangan pula berangan-angan kau menemukan deretan nama-nama member boys/girls band atau idolamu karena ini bukan sejenis novel Fan Fiction.
Teman-teman akan diperkenalkan pada laki-laki baik hati bernama Shin Yong Hee yang memiliki hobi menggambar. Tetapi kemudian kehidupannya berubah total setelah suatu malam ia menyelamatkan seorang gadis bernama Han Seon Mi yang baru diketahuinya seorang artis.
Namun, ia harus menerima kenyataan kalau kebaikan yang telah dilakukannya berbuah petaka baginya, bagi kehidupannya, bagi masa depannya.
Kemudian, setelah kejadian seorang laki-laki bermata sendu itu menyelamatkannya, kehidupan Han Seon Mi malah semakin memuakkan dan menyakitkan. Setelah membuat pengakuan mengejutkan yang telah menghancurkan masa depan laki-laki itu, hidupnya pun dirundung penyesalan tiada akhir.
Perjuangan gadis itu memohon maaf kepada laki-laki itu terasa sangat panjang dan penuh perjuangan. Namun yang diketahuinya saat itu, ia harus berjuang sampai akhir.
Hal itulah yang ingin saya sampaikan dalam novel ketiga saya. Ada sedikit perubahan cerita dalam kisah ini yang berbeda dengan draft kasarnya. Awalnya, saya ingin lebih menonjolkan dendam tokoh utama dan kebenciannya pada tokoh Han Seon Mi, namun seiring dengan berjalannya waktu, cerita sedikit berbalik. Saya sedikit lebih banyak mengeksplor penyesalan Han Seon Mi, ketimbang kebencian dan amarah Shin Yong Hee karena merasa telah dikhianati.
Pada akhirnya saya percaya, konflik timbul karena pergesekan antar tokoh. Selama menulis, saya merasa lebih dekat dengan Han Seon Mi. Saya dapat merasakan penyesalan yang dialami gadis itu. Saya juga ikut merasakan perih akibat pengkhianatan yang dialami Shin Yong Hee.
Begitulah kisah itu bergulir, sampai keduanya dipertautkan dengan perasaan yang mereka simpan dalam relung hati masing-masing, penyesalan yang indah.
Saya juga menambah sub-konflik antara Han Tae Ra yang menutup perasaannya pada seseorang yang pernah menorehkan luka di masa lalunya. Perempuan keras kepala yang terus menutup perasaannya. Hal itu saya lakukan dengan alasan, semua sumber masalah yang dialami dua tokoh utama itu karenanya. Karena ulahnya, karena keserakahannya dan... karena kisah masa lalunya bersama So Yi Jung. Laki-laki yang kini bersahabat dengan Shin Yong Hee.
Hal yang membuat saya takjub dalam cerita ini adalah, Shin Yong Hee dan Kim Min Ji mematahkan teori kalau sepasang laki-laki dan perempuan tidak akan murni bisa bersahabat. Kenyataannya, persahabatan Kim Min Ji dengan Shin Yong Hee tidak dilandasi oleh pengkhianatan rasa bernama cinta. Sampai cerita ini ditutup, keduanya tetap bersahabat dengan baik.
Mari kita tunggu perkembangannya. Semoga awal atau pertengahan tahun ‘Beautiful Regret’ sudah bisa dinikmati.


Cheers