Sabtu, 08 Februari 2014

H

Hai, H... apa kabar?

Bagiku, kau bukan sekadar inisial. Bukan pula abzad ke delapan yang tak mampu berdiri sendiri untuk merangkai kata. Bagiku, kau bisa menjadi (H)ati, (H)idup, atau (H)arapan. Bisa pula kau adalah (H)atiku, (H)idupku serta (H)arapanku yang pada akhirnya kau (H)empas pada satu pilihanmu...

H, sudah berapa persimpangan kita lewati dengan berpapasan, saling bertemu muka, namun tak di antara kita bertegur sapa. Segaris senyum pun, tak pernah berhasil kita sunggingkan. Satu sama lain, berpaling pada arah yang tidak akan membuat kita bersitatap. Satu kali, dua, tiga, atau puluhan?

Kita merupa dua orang asing yang tak saling mengenal. Atau, kita pernah saling mengenal, tetapi entah pada dimensi mana kita pernah mengisi cerita dalam meja yang sama. Tersenyum atas cerita lucu yang kita tawarkan.

Terus terang saja, H, itu bukanlah inginku.

Jujur, ketika kita berpapasan pada gang kecil menuju tempat indekostmu, aku ingin menyapamu. Sekadar basa-basi. Tak apalah, aku melakukannya hanya padamu. Namun, semua selalu menjadi angan-angan. Kau tahu apa alasannya?

Tak ada alasan setidakmasuk akal ini, "Karena hadir gejolak rasa yang tiba-tiba saja membuat lidahku kelu, H... apa kau juga merasa demikian?"

Sampai detik ini, hanya kau yang dapat melakukan itu, H... Membuatku merasa menjadi makhluk paling bodoh saat berada di dekatmu. Belum ada gadis lain yang dapat melakukannya. Mereka datang dan pergi, seolah aku hanyalah tempat persimpangan.

Terkadang aku bertanya kepada diri sendiri, "Kapan kau akan kembali jatuh cinta?"

Sementara batinku menjawab lemah, "Belum ada gadis lain yang bisa membuat dadamu bergetar ketika kau tengah bersamanya. Membuatmu tak mampu menatapnya, selain sesekali kau mencuri pandang tanpa diketahui olehnya. Atau seseorang yang bisa membuatmu tersenyum selayak orang gila ketika mendapat pesan singkat darinya."

Itu gila kan, H? Tetapi mencintaimu dalam diam itu sangat menyenangkan. Bahagia. Tidak ada kata lain. Mana mungkin cinta begitu menyakitkan? Itu hanya ada dalam novel roman yang pernah kutulis. ‘Pernah’ dekat denganmu saja bahagiaku sungguh luar biasa. Apalagi selamanya?

Belum ada yang lain, H. Sungguh.

Coba kau hitung, sudah berapa lama aku jatuh-cinta-dalam-diam kepadamu? Tapi percayalah, kadar cintaku tidak tertakar...

Dan hujan kali ini mengingatkanku pada satu senja; pada eskrim, pada payung yang menaungi dan tentu saja, pada ‘kita’...

Sabtu, 18 Januari 2014

Pa, Ma, Please...!





(Windra)
            Akhirnya mereka memutuskan...
            Ini adalah situasi yang membuat guedan Windry tersudut. Oke, bisa dikatakan ini solusi terbaik buat mereka setelah hampir berbulan-bulan mereka berjibaku dengan ego masing-masing, merasa merekalah yang paling benar. Memposisikan diri sebagai manusia—sebagai seorang lelaki dan perempuan. Tak pernah memposisikan diri sebagai seorang ayah yang seharusnya bisa berpikir lebih bijak dan sebagai ibu yang lebih penyabar. Apakah mereka pernah berpikir dengan situasi kami sekarang?
            Palu sudah diketuk tiga kali. Setelahnya, gue sempat melihat mama dan papa bersalaman.Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Melihat itu, gue berharap kalau mereka tersenyum bukan karena putusan hakim. Ya, meskipun gue tahu, sepertinya itu mustahil. Dan setelahini, apakah hubungan gue dengan Papamasih bisa kayak dulu...? Terus apa gue masih bisa memanggil Mama dengan sebutan Mama? Lalu, gue akan tinggal di mana setelah ini?Bersama dengan siapa setelah beberapa bulan terombang-ambing dan memutuskan tinggal bersama Oma.

Selasa, 07 Januari 2014

Di Balik Kisah Kenaldy dan Nadine


“Painful Love”

Katamu cinta adalah sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum—bahkan bukan hanya kamu, tapi orang-orang yang berada di sekitarmu juga akan merasakannya.
Itu kan, katamu dulu? Dulu, ya... dulu.. tetapi sekarang?
Lalu hari ini, apa kata-katamu itu masih bisa dengan lantangnya kamu ucapkan. Tidak perlu dengan tersenyum pongah, hei ingat, aku hanya saudara lelakimu—bukan pesaingmu. Ingat itu! Tak ada niatku untuk merebut gadismu.
Tapi sekarang, aku memilikinya. Haha... apa kamu masih bisa tersenyum? Apa kamu akan tetap bahagia? Bodoh! Mengingat namamu pun kamu tak bisa.
Dan sekarang aku memiliki wanitamu!
Aku juga merebut wanitamu dari lelakinya!
Tapi aku tak sepertimu, memilikinya karena cinta hingga kamu merasakan kesakitan.
Karena sampai saat ini, aku tak pernah paham tentang cinta.
Aku memilikinya, untukmu. Ya, hanya untukmu!
Tunggu sejenak, aku hanya akan mengantarnya saja. Tidak lain! Tetaplah di sana, sampai wanitamu datang, lalu membawa apa yang selama ini kamu harapkan...
Cinta....
Februari 2013, saya dihubungi oleh sekretaris Media Pressindo yang mengabari kalau naskah novel yang saya kirim—kurang lebih tiga minggu sebelumnya—bersedia diterbitkan. Tentu saja, saya sangat senang. Pada waktu yang sama, saya sedang menantikan proses kelahiran novel komedi saya. Setelah telpon itu, saya dihubungi oleh Mbak Fatimah Azzahra, meminta revisi untuk ending. Dia menginginkan novel romance pertama saya ini berakhir dengan manis, bukan sebaliknya.

Maka demi kebaikan naskah saya sendiri, saya tidak menolak. Lagipula, saya tidak harus merombak naskah secara keseluruhan. Hanya menulis ulang bab terakhir dan epilog. Jujur saja, ketika itu saya buntu. Saya memilih cerita saya berakhir tragis lantaran, saya tidak menyukai happy ending. Maka, Mbak Fatimah menyarankan saya banyak menonton film romantis; Film Jepang, Korea, Thailand dll.

Seminggu kemudian, saya telah merampungkan tugas saya dan segera mengirimkan hasil revisi serta kelengkapannya kepada Mbak Fatimah dan setelah itu saya menunggu kabar baik selanjutnya.

Jujur saja, ini adalah naskah novel pertama yang saya tulis dan saya selesaikan. Bersama modal beberapa novel metropop sebagai referensi, maka lahirlah cerita Ken yang berniat membalaskan dendam kakaknya kepada wanita yang telah mengkhianatinya. Namun perjuangannya tidak berjalan dengan lancar. Wanita yang dikiranya mengkhianati kakaknya, telah menyimpan rahasia besar yang membuat Ken bergeming.
 
Lalu, bersama kenyataan yang baru diketahuinya, Ken urung membalaskan dendamnya dengan alasan, kakaknya bukan hanya satu-satunya korban. Wanita itu pun terluka. Salah satu alasan lainnya, adalah dengan hadirnya Nadine yang perlahan membuat dia percaya, bahwa cinta itu ada. Selain cinta yang menyakitkan, cinta juga hadir sebagai penawarnya.

Saya tidak akan panjang lebar memperkenalkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan Ken. Saya teramat menyukai karakter tokoh utama perempuan saya dalam novel ini. Dia adalah Nadine. Seorang gadis sederhana yang tentu saja memiliki ambisi dalam hidupnya. Lalu hadirnya Ken membuat dirinya sadar, ada hal yang lebih penting dari ambisinya, yakni cinta, kasih sayang serta ketulusan yang diberikan laki-laki itu.

Ah, lagi-lagi tentang cinta. Gadis itu baru menyadari bahwa hal-hal kecil yang Ken tawarkan, adalah sebentuk cinta yang hadir secara perlahan, namun pasti. Lalu dia menyadari cinta ada di antara mereka setelah merasakan kehilangan. Dia pun terluka, namun bersama cinta yang memberi keyakinan, dia bangkit dan terus berharap.

Meski tidak terlalu mendalam, tetapi saya menghadirkan setting kota Bandung—Jalan Braga, dua hotel besar di Bandung yang posisinya saling berhadapan dan stasiun kereta api—yang telah mempertautkan Ken dengan Nadine. Ada juga kota Jakarta dan di akhir, saya sedikit menuliskan stasiun kereta api Gare de Lyon-Paris, sebagai sajian penutup.

Baiklah, hanya itu yang bisa saya paparkan.  Mengenai kelanjutan kisah mereka, bisa dinikmati dalam novel Painful Love yang telah beredar di toko buku. Inilah debut saya sebagai penulis romance. Semoga suka...

Sabtu, 28 Desember 2013

Tinjauan Film Tenggelamnya Kapal Van Deer Wijck


nyolong di google tadi
Saban hari saya pernah nyeletuk, “Saya ingin membuat blog khusus review buku dan film. Blog baru tersebut akan saya namai ‘Bufil’—singkatan buku dan film.” Tetapi saya malah menertawakan keinginan saya sendiri. Sementara blog ini saja, kadang-kadang diurus sama sahabat virtual saya—Hadi Tang, atau Maikel—yang katanya, mereka tak bisa menolak perintah saya yang oportunis ini. What the...?Manner pliis!
            Akhirnya saya memutuskan untuk menyampur-adukkan segala sesuatu yang ingin saya tulis pada blog ini. Yep, termasukreview pertama saya untuk film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
            Sebenarnya, saya sudah ada rencana, di hari terakhir UAS, saya akan menghabiskan waktu tersebut dengan hanya bersenang-senang. Selain alasan di atas, alasan lainnya adalah saya telah menyelesaikan naskah novel sebelum menutup tahun 2013. Sesuatu yang patut dirayakan, sebenarnya. Rencana pertama adalah, saya ingin nonton. Kemudian, saya teringat akan hadiah yang menjadi tahuran saya bersama Honesty—kita singkat saja menjadi Ones—yakni tiket nonton. Dulu, ketika saya mulai mengendus rencana novel Sunshine Becomes You akan difilmkan, saya menginginkan tiket gratis tersebut dialokasikan untuk menonton film itu. Tetapi apa dikata, bahkan sampai detik ini saya belum mengetahui perkembangan film yang diadaptasi dari novelnya Ilanna Tan tersebut.
            Karena takut si gadis asal Cirebon itu lupa akan janjinya, maka saya menagihnya untuk menonton kali itu. Sebenarnya tanpa tiket gratis itu pun, saya akan tetap menonton. Namun karena Ones takut dia kenal sial gara-gara tidak menepati janjinya—seperti tokoh Mia di novel Janji Es Krim—maka dia menepatinya. Yep, barangkali itu berkah natal untuk saya. Terimakasih Tuhan yang baik karena telah membuat Ones gagal move on dan kemenangan mutlak di tangan saya.

Senin, 23 Desember 2013

Di Balik ‘Luka’ Shin Yong Hee dan Han Seon Mi(Beautiful Regret)


Sekira bulan September, mood dalam menulis saya tengah buruk-buruknya. Keinginan untuk menyelesaikan naskah satu dan yang lainnya bertumpang tindih hingga akhirnya saya menyerah pada keinginan yang gila tersebut dan menenangkan diri selama beberapa jenak. Tetapi pada saat yang sama, satu inbox Facebook telah membuat semangat menulis saya kembali terpacu. Adalah pesan yang dikirimkan Mbak Anin Patrajuangga yang melakukannya. Pesan singkat tersebut menyebutkan kalau outline yang telah saya kirimkan—tepatnya saya sudah lupa—telah dipelajari dan Penerbit Grasindo bersedia menerbitkannya.
Tentu saja, itu adalah kabar yang cukup menggembirakan. Kehadirannya seolah memberi angin segar serta jalan yang harus saya tempuh saat itu, yakni menuliskan kerangka tersebut sampai selesai.
Tak serta merta Mbak Anin memberi kesiapan menerbitkan, kalau tidak memberi Dead Line. Ya, bulan Desember menjadi tenggat naskah ini harus selesai dan disetorkan dalam bentuk utuh, bukan lagi setengah rangkaian cerita.
Sementara dalam proses penulisannya, sempat didera kendala karena telah kehilangan feel Korea. Pada saat itu memang tidak banyak drama romance yang saya tonton, melainkan komedi dan serial detektif cyber yang membuat saya terbuai dengan kerumitannya. Tetapi kehabisan akal bukan tabiat saya. Ketika itu saya membeli novel terjemahan sebagai bahan referensi. Karena sejak awal, saya ingin mengonsep novel ini ala terjemahan, tetapi seiring berjalannya waktu, saya gagal membentuknya, tetapi saya berhasil menuliskannya dengan gaya saya sendiri tentunya.
Tulisan ini berlatar Korea Selatan—Demi Tuhan, ini bukan semata mengikuti tren, tetapi karena saya menyukai banyak hal tentang Korea, drama salah satunya—tetapi jangan terlalu berharap mendapat sajian tentang seluk beluk setting Korea yang mendalam—Pliis, ini bukan sebuah novel perjalanan—dan jangan pula berangan-angan kau menemukan deretan nama-nama member boys/girls band atau idolamu karena ini bukan sejenis novel Fan Fiction.
Teman-teman akan diperkenalkan pada laki-laki baik hati bernama Shin Yong Hee yang memiliki hobi menggambar. Tetapi kemudian kehidupannya berubah total setelah suatu malam ia menyelamatkan seorang gadis bernama Han Seon Mi yang baru diketahuinya seorang artis.
Namun, ia harus menerima kenyataan kalau kebaikan yang telah dilakukannya berbuah petaka baginya, bagi kehidupannya, bagi masa depannya.
Kemudian, setelah kejadian seorang laki-laki bermata sendu itu menyelamatkannya, kehidupan Han Seon Mi malah semakin memuakkan dan menyakitkan. Setelah membuat pengakuan mengejutkan yang telah menghancurkan masa depan laki-laki itu, hidupnya pun dirundung penyesalan tiada akhir.
Perjuangan gadis itu memohon maaf kepada laki-laki itu terasa sangat panjang dan penuh perjuangan. Namun yang diketahuinya saat itu, ia harus berjuang sampai akhir.
Hal itulah yang ingin saya sampaikan dalam novel ketiga saya. Ada sedikit perubahan cerita dalam kisah ini yang berbeda dengan draft kasarnya. Awalnya, saya ingin lebih menonjolkan dendam tokoh utama dan kebenciannya pada tokoh Han Seon Mi, namun seiring dengan berjalannya waktu, cerita sedikit berbalik. Saya sedikit lebih banyak mengeksplor penyesalan Han Seon Mi, ketimbang kebencian dan amarah Shin Yong Hee karena merasa telah dikhianati.
Pada akhirnya saya percaya, konflik timbul karena pergesekan antar tokoh. Selama menulis, saya merasa lebih dekat dengan Han Seon Mi. Saya dapat merasakan penyesalan yang dialami gadis itu. Saya juga ikut merasakan perih akibat pengkhianatan yang dialami Shin Yong Hee.
Begitulah kisah itu bergulir, sampai keduanya dipertautkan dengan perasaan yang mereka simpan dalam relung hati masing-masing, penyesalan yang indah.
Saya juga menambah sub-konflik antara Han Tae Ra yang menutup perasaannya pada seseorang yang pernah menorehkan luka di masa lalunya. Perempuan keras kepala yang terus menutup perasaannya. Hal itu saya lakukan dengan alasan, semua sumber masalah yang dialami dua tokoh utama itu karenanya. Karena ulahnya, karena keserakahannya dan... karena kisah masa lalunya bersama So Yi Jung. Laki-laki yang kini bersahabat dengan Shin Yong Hee.
Hal yang membuat saya takjub dalam cerita ini adalah, Shin Yong Hee dan Kim Min Ji mematahkan teori kalau sepasang laki-laki dan perempuan tidak akan murni bisa bersahabat. Kenyataannya, persahabatan Kim Min Ji dengan Shin Yong Hee tidak dilandasi oleh pengkhianatan rasa bernama cinta. Sampai cerita ini ditutup, keduanya tetap bersahabat dengan baik.
Mari kita tunggu perkembangannya. Semoga awal atau pertengahan tahun ‘Beautiful Regret’ sudah bisa dinikmati.


Cheers


Kamis, 28 November 2013

Pengumuman Pemenang FF #DiaryJombloDarurat


“Deng, buku lo apakabarnya?”
Tanya Kentang—a.k.a Hadi Tang a.k.a Hadi Sujatman—suatu ketika. Entah pertanyaan tersebut murni datang dari hatinya, menanyakan novel pertama saya, atau serupa sindiran dengan redaksi kalimat seperti ini, sebenarnya, ‘Deng, buku lo laku nggak sih?’ dan saya pikir itu maksud Kentang sebenarnya. Hanya saja dia mencoba berbasa-basi dengan cantik.
“Baik,” saya menjawabnya tak acuh. Memangnya apa yang bisa lelaki gingsul itu lakukan, hah? Menyemangati saya buat terus berpromosi ria ala SPG (Bukan Sales Promotion Gay)? Ah, dia aja selalu nggak pedean dengan karyanya, mana bisa mede-medein orang lain. Halah...
“Gimana kalau gue bantuin promo, euh... sebenernya ini sejenis kerja sama.” Katanya kemudian.
Saya yang awalnya enggan merespon pesan instan melalui whatsapp, merasa tertarik dengan tawarannya. Karena sebelumnya, Kentang pernah didaulat sebagai host acara debut penulis di salah satu penerbit. Baiklah, saya pikir ini cukup keren. Ah, niat saya sebenarnya bukan untuk promosi, melainkan berbagi kesenangan saja.
Ya, saya senang menulis. Alangkah kerennya kalau kesenangan saya juga dirasakan teman-teman.
“Gimana kalau ....!@#$%^&*()_...” tawarku pada Kentang yang lagi mangkir dari kerjaannya di kantor TU.
“Ah, kayaknya keribetan. Ntar kalo nggak ada yang ikutan gimana?”
“Bagaimana kalau gini...!@#$%^&*(...”
Kentang kembali menyela. “Ribet bingit itu Kakak.”
Padahal niat saya begini, kemudian saya jelaskan. “Saya ingin orang-orang yang awalnya malu-malu menulis mulai memiliki kepercayaan diri buat menulis, ya, kita mulai dengan cara sederhana. Masalah banyak atau nggak yang ikut, biarkan itu berjalan semana mestinya.” Ah, kenapa saya jadi sok-sok-an bijak kayak gitu.
Maka terciptalah kerja sama yang sangat elegan ini...

Setelah opening yang cukup melelahkan, saya kira. Mari kita ke acara inti. Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman atas atensinya, mengikuti tantangan menulis FF dengan tema ‘Jomblo’ versi kalian masing-masing. Mohon maaf pengumumannya terlambat lantaran saya harus menunaikan kewajiban saya terlebih dahulu sebagai... jomblo. Ah, salah fokus. Sebagai Mahasiswa yang cukup taat pada dosen. Selain alasan itu, ada alasan yang lebih krusial lagi, di tempat saya didera mati lampu seharian.
Sebenarnya, tulisan teman-teman sangat keren. Dan semoga saja setelah ini, Chingu (sebutan untuk teman versi saya), bisa terus menulis. Ya, minimal untuk kesenangan Chingu sendiri ya, selebihnya semoga saja bisa menyenangkan orang lain. Aih, pekerjaan yang mulia itu.
Tetapi karena ini bisa disebut kompetisi, tentu saja dengan skala paling kecil, maka saya pilihkan satu pemenang yang akan menerima 1 eksemplar Novel Diary Jomblo Darurat edisi bertanda tangan. Ketika membaca FF Chingu semua—termasuk punya Om Kentang—saya sempat syok, karena diceritakan Adeng adalah seorang cewek cantik. Saya jadi pengen rebonding rambut dan beli rok mini. #salahfokus Tetapi saya beneran bingung karena kisah kalian sangat keren dan inspiratif.
Yang terpilih, tetap hanya satu dan yang beruntung mendapatkannya adalah...
@argalitha-Kisah Kepada Juwita
Selamat, kepada pemenang beruntung, sila kirim nama lengkap+Alamat jelas+nomor telpon ke DM @HadiSujatman
Baiklah, saya ucapkan thanks buat Chingu saya, Kentang—a.k.a Hadi Tang a.k.a Hadi Sujatman—yang sangat agresif dalam menjalankan acara ini. Juga kepada Chingu lainnya, mari terus berkarya.
Salam,

Dion Sagirang

Minggu, 24 November 2013

Reuni Singkat


Setiap malam kita melakukan ritual kecil berupa obrolan ringan. Tema percakapan kita tak beranjak dari orang-orang yang pernah menoreh warna di kehidupan kita, dan anehnya tak sedikit pun kita dihinggapi rasa bosan. Meski tema serupa, tapi nyaris tak pernah jenuh karena setiap malam yang kita lewati akan terasa menyenangkan. Kadang kala, cerita kita diakhiri dengan derai tawa yang menyadarkan kita, telah banyak bungkus makanan yang telah tandas. Atau, dulu kita pernah mengakhiri percakapan dengan tangis terisak yang membuat orang tua kita saling menaruh curiga, ‘kau apakan anakku?’. Lalu dengan berat esoknya kita saling menjelaskan perihal yang terjadi kemarin malam.
Keadaan kita memang begitu. Tak jarang kita lupa waktu, lalu disadarkan oleh teriakan orang tuaku dari ambang pintu dan tentu saja orang tuamu yang mengutus adikmu untuk mengingatkan kita kalau malam sudah semakin beranjak jauh, menyeruakkan sunyi dalam gelap. Hari esok telah menunggu kita dengan cantik. Begitu kau bilang. Sebagai kalimat perpisahan untuk malam itu.
Namun kali ini, kau mengajakku menjelmakan kehidupan. Sebenarnya, aku tak mengerti maksudmu. Tapi, baiklah kita coba. “Mmm... apa, ya?” Aku berpikir cukup lama. Mencari ide dalam nikotin yang kusesap. Sementara kau menikmati kukicha hangatmu yang juga mengepulkan asap, menebarkan aroma tenang dalam cangkir yang kaudekap di kedua tanganmu. Malam ini terasa sangat dingin, makanya tak tampak satu pun bintang yang berpendar. Meski tanpa bintang, tapi percakapan kita di beranda rumah akan tetap seru, seperti malam-malam sebelumnya. Bukankah begitu?
Awalnya, kau tidak percaya kalau kita hidup dalam sekat. Sekali lagi kuyakinkan. “Sekat itu ada, namun tampak kasat.”
Kau memanyunkan mulutmu hingga terlihat sangat buruk. Haha... aku bercanda. “Baiklah, tak perlu kau merajuk begitu, jangan biarkan orang-orang tahu, tak ada kelebihan lain di wajahmu selain senyummu itu.” Kau merasa aku sedang menggombal? “Untuk percakapan kita malam ini, kau berpura-pura saja percaya kalau hidup kita bersekat, titik. Mari kita lanjutkan!”
Kau mengangguk. Kemudian bersiap mendengarkan ocehanku selanjutnya. Namun kau kembali menginterupsi ketika aku menyebut selain bersekat, kita juga hidup bertingkat. “Ya, kita hidup dalam tingkatan yang berbeda-beda, padahak kita menginjak tanah yang sama.”
“Benarkah?” tanyamu tak percaya.
Sungguh aku tidak tahu, apa kau benar-benar tak mengetahuinya atau sedang mengetes kemampuanku. Kemudian aku bertanya padamu, “Hidupmu berada dalam tingkatan sosial yang mana, bawah, menengah atau atas?”
Kadang alasan konyol ini yang membuat tanganku gatal untuk menjitakmu, tapi yang membuatku suka, kau hanya meringis seraya memelototkan mata kecilmu dan mengusap-usap keningmu yang memerah. Tetapi karena aku sahabat yang baik, mari kita ber-reuni singkat. Sejenak saja, jangan kau pikir kita akan bercerita tentang bagaimana kau mendapat cinta pertamamu. Bisa-bisa obrolan kita menjadi basi.
Kita mengenal satu teman semasa SMA yang mengalami perubahan total dalam hidupnya. Ya, dia mengalami lonjakan sosial yang sangat drastis. Saat itu, dia berada pada tingkatan tertinggi secara strata sosial. Perubahan terjadi pula pada fisiknya yang semakin cantik, barangkali karena pakaian, perhiasan yang dia kenakan. Juga pada mobil keluaran teranyar yang mengantarnya kesana-kemari layaknya setrikaan.
Kau menderai tawa, padahal tidak ada yang lucu. “Hei, simak dengan baik karena sebenarnya ini inti percakapan kita!”
Kau mengangguk, kemudian mengusap cangkir di tanganmu.
“Strata sosialnya melonjak, tetapi tak serta merta dengan kepribadian level terbawah yang masih belum bisa dilepasnya. Ini bagian yang sangat disayangkan karena apa yang dia pakai dan dia lakukan, tanpa mengubah cita rasa pribadinya, rasanya dia tetap temanku yang urakan. Padahal dulu—karena aku mengenalnya—aku sering menyarankan dia supaya memantaskan diri, menyesuaikan dengan level tertinggi yang telah diraihnya.”
“Lalu?” tanyamu, mulai beraksi atas ceritaku.
“Rupanya dia bebal. Tak sedikit pun mendengarkan saranku. Ya, sepertimu. Bedanya, ketika itu aku tak berani menjitaknya. Bisa-bisa diperkarakan ke meja hijau.”
Kau menyungging senyum, kemudian menyesap teh di tanganmu dengan nikmat.
“Meski tampak mengilat, batu itu tetaplah benda kotor yang ditemukan dari sungai. Ironinya seperti itu.”
Aku hanya tersenyum simpul ketika kau bertanya, “Apakah ada peribahasa yang lebih halus, semisal rumput liar yang tumbuh di padang golf?”
“Nah, barangkali itu sebutan yang paling cocok untuknya. Kadang-kadang kau pintar meresponku saat aku membicarakan hal-hal tentang dirimu.”
Kau mengumpat, “Sial!”
Sekarang aku berani menjitakmu, karena kau telah kembali ke rumahmu yang dulu. Rumah yang letaknya hanya beberapa langkah dari teras rumahku. Dalam dukamu karena bisnis ayahmu yang baru seumur jagung itu telah bangkrut, aku tersenyum dan bahagia. Dengan begitu, kau kembali membumi. Lebih terlihat seperti manusia, seperti seseorang yang pernah kukenal.
Kemudian obrolan tentangmu telah selesai. “Sekarang kau percaya dengan apa yang telah kukatakan tadi?”
Kau mengangguk pasrah.
“Sekarang giliranmu, apa yang ingin kau ceritakan. Aku akan mendengarnya.” Aku menyesap rokok di tanganku, mengembuskan asap ke udara yang secepat kilat tersapu angin.
Kau bercerita tentang temanmu yang selama sekolah sangat pintar dalam pelajaran hingga sering mendapat peringkat satu. Selama itu, kau tidak pernah iri kepadanya. Aku bertanya, “kenapa?” Alih-alih menjawabku, kau melanjutkan ceritamu, berpura-pura tak menghiraukan.
“Dia teman yang pintar, namun sekaligus teman yang membosankan.” Mulutku yang gatal tak segan melayangkan pertanyaan serupa. Karena sepertinya aku juga mengenal teman dalam ceritamu itu. Untungnya, kali ini kau menjawab.
“Acapkali dia membicarakan segala tetek bengek tentang kekasihnya.”
Untuk pertama kalinya kau mengaku kalau itu cukup menyenangkan saat mendengar ceritanya. Ketika dia mengenal seorang lelaki yang baik, humoris dan menyenangkan. Tetapi kebosanan menyertaimu karena cerita itu terus bergulir seiring pertemuanmu yang intens dengannya. “Dia terus membicarakan kekasihnya seolah dunia tak memiliki cerita lain. Demi Tuhan, aku mulai muak.” Air mukamu berubah, seperti tengah berusaha muntah di mulutmu.
“Ya, bisa jadi dunia mengakui kalau Rendang adalah makanan terlezat di dunia. Tetapi ketika harus menyicipinya setiap hari, aku yakin, bisa-bisa kau muntah.” Lanjutmu seraya mendelik.
Kali ini giliran aku yang menggelak tawa. Bagaimana bisa seseorang begitu bangga dengan kekasihnya sehingga acapkali berbicara tentangnya. Lambat-laun, aku dibuat penasaran pada temanmu itu. “Siapa dia?”
Kau menggeleng. Mengembang senyum penuh muslihat.
Ah, kau tak asik karena tak mau memberitahunya. Karena cerita temanmu yang sangat konyol itu, aku tak dapat menahan tawa.
Kau mengerutkan kening, seolah respon tawaku sangat berlebihan. Barangkali kau berang melihat tingkahku, maka kau pun menjawab pertanyaanku yang tadi kau abaikan.
“Sepertinya kau begitu puas menertawakan kekasihmu sendiri, padahal dia sangat bangga terhadapmu.”
Dalam diam, aku memerhatikan tubuhmu yang beranjak dan masuk ke dalam rumahmu sementara aku masih terpaku atas jawabanmu.
Ya, dan kehidupan pun bergulir. Kali ini giliran aku yang mengumpat. “Sial!”