Pernah kukatakan. Aku menyukai
sederhanamu. Ya, terlalu naif kamu bila
tidak mengerti maksudku.
Berulang kusebut, aku tidak melihat
seseorang dari kayanya, cantiknya,
pintarnya atau agamanya. Ya, kurang
gamblang dimana kata-kataku?
Sebentuk rasa itu berawal dan berjalan
dari hati. Ke hatimu juga semua itu akan
berlabuh.
Percayalah, kamu...
Kamu bersedia menunggu, meyakin dan
menerima. Karena aku tak pernah melupa.
Ketika lelaki punya janji, adalah menepati
yang kan terus terkenang.
Tapi sekarang kamu patah. Kamu berlari
di luar jangkauku. Lalu kamu meragu
dengan hatimu dan kamu yang
memutuskan.
Baik.
Akan kuikuti.
Tidak Ada Ode bagi Lautan: Siasat Bertahan Hidup Kaum Pelaut yang
Termarjinalkan
-
[image: tidak-ada-ode-bagi-lautan-karya-adia-puja]
Tidak Ada Ode bagi Lautan karya Adia Puja
Makanan apa yang bisa dimakan gratis di tengah dunia kapita...
5 hari yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar